Pesugihan Di Indonesia (2)

Help US With Share

Ritual pesugihan dengan jin terkadang menjadi suatu pilihan sebagian orang saat mereka gelap mata. Tidak sedikit dari mereka yang rela melakukan berbagai macam ritual bahkan sampai menyerahkan kehormatannya demi mendapatkan pesugihan jin yang dianggap bisa mendatangkan harta.

Bahkan, walaupun dalam pesugihan jin tersebut pelaku diminta untuk menyerahkan keluarga yang dicinta atau bahkan dirinya sendiri mereka sepertinya rela. Tidak ada yang bisa membuktikan jika orang yang melakukan pesugihan dengan jin maka dirinya setelah mati akan menjadi budak jin. Berikut beberapa pesugihan yang ada di Indonesia.

PESUGIHAN GUNUNG KAWI

Salah satu daerah yang jadi favorit pelaku pesugihan adalah Gunung Kawi. Konon, ritual pesugihan di Gunung Kawi dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. Para peziarah hanya diwajibkan untuk melakukan ritual tapa brata selama tiga hari di bawah sebuah pohon keramat bernama pohon Dewandaru.

Jika ingin mendapatkan kekayaan secara mendadak, seseorang harus melakukan ritual pesugihan pada hari Jumat Legi, atau  pada tanggal 12 setiap bulan Suro. Kedua hari ini dipilih untuk ritual pesugihan, karena tepat memperingati wafatnya Eyang Djoego (Jugo) dan Eyang RM Iman Soedjono (Sujo). Keduanya adalah pembantu pangeran Diponegoro. Konon, kedua hari tersebut menjadi hari keluarnya khodam pesugihan di Gunung Kawi.

Sebelum tapa brata, peziarah tersebut diwajibkan terlebih dahulu melakukan mandi suci yang dipimpin oleh juru kunci. Saat melaksanakan ritual ini, peziarah harus melakukan kontrak mati atau semacam perjanjian dengan penguasa gaib Gunung Kawi. Mereka harus bersedia memberikan tumbal nyawa pada sang penguasa setiap tahun untuk melanggengkan kekayaannya.

Setelah mandi, pelaku pesugihan harus bersila di atas selembar daun pisang. Ia tidak boleh makan, minum, dan tidur selama tiga hari. Mereka juga tidak diperbolehkan buang air besar dan air kecil, kecuali mengeluarkannya di atas daun pisang yang didudukinya.

Tapa brata dihentikan, jika mereka telah kejatuhan selembar daun dari pohon Dewandaru yang gugur dengan sendirinya. Namun, daun itu harus jatuh tepat di tubuh. Gugurnya daun Dewandaru menandakan, bahwa permintaan menjadi kaya melalui jalur pesugihan Gunung Kawi telah disetujui oleh penguasa gaib yang menunggu pohon Dewandaru. Nantinya, daun itu harus disimpan di dalam bantal alas tidurnya.

Konon, setelah satu tahun pemilik pesugihan biasanya akan mulai mengalami peningkatan dalam kehidupan ekonominya. Pada saat itulah, ia harus menyerahkan tumbal seorang manusia yang masih memiliki hubungan darah dan sepersusuan dengannya. Ia harus menunjuknya dan merelakan kepergian saudaranya itu untuk dijadikan pesuruh di kerajaan gaib Gunung Kawi.

Tumbal harus diberikan melalui ritual tertentu. Seorang yang ditunjuk menjadi tumbal biasanya akan mati secara mendadak tanpa diduga-duga. Selain itu, setiap kali memberi tumbal kekayaan pemilik pesugihan diyakini akan melonjak secara drastis.

PESUGIHAN NYAI PUSPO CEMPOKO

Pesugihan Nyai Puspo Cempoko ini hanya bisa dilakukan oleh laki-laki, mungkin karena Nyai Puspo Cempoko adalah sejenis jin perempuan yang butuh cinta. Pesugihan ini sangat terkenal di kawasan kota Rembang dan sekitarnya. Yang melakukan pesugihan ini akan diambil menjadi suami, dan setiap malam Jumat kliwon harus melakukan ritual hubungan intim dengan jin Nyai Puspo Cempoko. Konon, setelah pelaku pesugihan melakukan ritual tersebut dia akan diberi imbalan berupa harta yang banyak.

PESUGIHAN MONYET ATAU KERA

Di daerah Ngujang, Tulungagung, terkenal dengan pesugihan monyet atau kera, atau dalam Bahasa Jawa biasa disebut ketek. Area pesugihan kera berada di kompleks pemakaman umum, di sebelah selatan Sungai Brantas, tepatnya di sisi utara Desa Ngujang. Di tempat tersebut, terdapat dua makam umum di sisi kiri dan kanan. Kedua makam itu saling berhadap-hadapan, dan hanya dipisahkan oleh jalan raya.

Satu komplek pemakaman Cina, satunya lagi komplek pemakaman Jawa. Dan di tempat inilah, tempat hidup dan berkumpulnya ratusan, bahkan ribuan monyet, atau warga sekitar biasa menyebutnya lokasi Ketekan. Ada tata cara khusus untuk menjalani ritual pesugihan di Ngujang. Ada perjanjian-perjanjian khusus yang harus dipenuhi sang pemuja sebagai mahar (mas kawin).

Pelaku harus bersedia menjadi penghuni makam Ngujang dan berkumpul bersama kera di sana ketika ajal menjemput. Saat masih hidup, pelaku juga wajib memberi tumbal kepada makhluk gaib yang menguasai makam Ngujang.

Sementara warga sekitar, meyakini kera yang menghuni makam Ngujang, adalah perwujudan dari pelaku pesugihan yang sudah meninggal, termasuk wujud tumbal yang pernah dijadikan persembahan si pemuja semasa hidupnya. Singkat kata, kera itu adalah makhluk jadi-jadian alias jelmaan siluman. Namun, populasi monyet-monyet itu tidak bertambah maupun berkurang dari dulu. Angka kelahiran monyet itu sama dengan angka kematiannya.

PESUGIHAN NYI BLORONG

Konon, orang yang melakukan pesugihan ini dipercaya bisa mendatangkan kekayaan yang berlimpah melalui hubungan intim dengan Nyi Blorong. Wujud pesugihan Nyi Blorong ini berbentuk ular bersisik emas. Saat pelaku pesugihan melakukan hubungan intim dengan ular tersebut, maka sisik-sisiknya yang berupa emas akan rontok di tempat tidurnya. Namun, sebagai balasannya, saat si pelaku meninggal dunia dia akan menjadi budak dari Nyi Blorong.

PESUGIHAN BULU GENDERUWO

Untuk melakukan pesugihan ini, pelaku harus telanjang bulat di bawah pohon gayam dan menyediakan masakan dari burung gagak. Konon, walaupun melakukan pesugihan ini memalukan diri, namun tidak begitu beresiko karena jin genderuwo tidak meminta tumbal atau nyawa.

Pelaku pesugihan harus bisa mendapatkan bulu genderuwo dengan cara mengambilnya langsung dari genderuwo saat dia sibuk menyantap masakan burung gagak. Saat itu, pelaku harus bisa dengan lincah mengambil bulu genderuwo. Jika beruntung, pelaku akan diyakini akan mendapatkan kekayaan yang berlimpah.


Help US With Share