Noiva De Cordeiro, Desa Dengan Mayoritas Wanita

Help US With Share

Kota yang berpenghuni mayoritas kaum perempuan memang ada. Kalian boleh percaya atau tidak,salah satunya adalah di Noiva do Cordeido, Brazil.

Negara Brazil merupakan negara paling timur di Benua Amerika Selatan yang berbatasan dengan Pegunungan Andes dan Samudra Atlantik. Negara Brazil ini menjadi wilayah jajahan Portugis sejak tahun 1494 dan menggunakan bahasa Portugal untuk bahasa sehari-hari bangsa mereka.

Wilayah ini kemudian menjadi pusat kedudukan Imperium Portugal pada tahun 1808 dengan Rio de Janeiro sebagai ibu kotanya.Pada 7 September 1822,Pedro menyatakan kemerdekaan Brazil dan ia diangkat menjadi Kaisar Brazil yang pertama pada tanggal 12 Oktober karena berhasil memenangkan perang melawan Portugis.

Namun di samping itu, di Brazil selain memiliki keindahan  juga mempunyai salah satu keunikan di mana mayoritas penduduknya perempuan yang berada di Desa Noiva do Cordeiro yang terletak di Belo Vale.

Pendiri desa Noiva do Cordeiro adalah Maria Senhorinha de Lima. Maria saat itu diusir dari rumahnya karena meninggalkan suaminya. Maria pun mencari tanah baru untuk ditinggalinya dan pada akhirnya ia mendirikan sebuah desa dengan nama Noiva do Cordeiro. Maria mendirikan desa teesebut untuk menampung dan menyambut perempuan yang dijauhi, ibu tunggal dan perempuan yang kurang beruntung

Desa yang terletak 300 mil di utara Rio de Janeiro Brazil Tenggara dengan lembah yang dipenuhi tanaman jeruk, pisang, dan pohon ipe. Desa itu bukan hanya menyuguhkan bentangan alamnya yang menarik perhatian tetapi juga penghuninya yang mayoritas perempuan.

Kehidupan di Noiva do Cordeiro begitu menyenangkan dan nyaris tanpa kekurangan. Apalagi ditambah bukit-bukit yang terhampar luas dengan indahnya, pepohonan yang tinggi, serta desiran angin yang sejuk membuat masyarakat tidak ingin pergi dari kota satu ini.

Beberapa perempuan di desa itu sudah menikah dan memiliki keluarga. Noiva do Cordeiro sangat populer dengan sebutan kota tanpa pria. Ada sekitar 600 wanita dengan rentan usia antara 20 hingga 35 tahun di kota di tenggara Brazil ini.

Bila perempuan muda di desa ini memiliki berat badan di bawah 70 kilogram, maka dia dianggap bernasib sial karena susah ada pria yang datang melamarnya. Pria yang mempersunting wanita setempat tidak diberi ijin tinggal di sana. Begitu juga dengan setiap anak laki-laki di sana yang berusia 18 tahun ke atas tidak tinggal bersama keluarganya.

Para pria dewasa (umur 18 tahun ke atas) diminta melakukan urusan mereka jauh dari rumah, hanya boleh kembali di akhir pekan saja. Semua urusan kota sepenuhnya dijalankan para wanita. Di sana perempuan memiliki kekuasaan yang besar dalam masyarakat pedesaan dan bertanggung jawab dalam semua aspek kehidupan mulai dari pertanian perencanaan desa bahkan soal agama.

Desa mereka nampak lebih teratur, cantik, dan lebih tenteram karena perempuan yang lebih memegang kendali. Tidak ada larangan bagi mereka untuk menikah, tapi para pria harus siap dengan segala aturan mutlak yang berlaku.

Rosalee menjelaskan bahwa para penduduk wanita di sana berbagi segalanya, bahkan tanah tempat mereka bekerja. Ia juga mengatakan tidak ada persaingan apapun di kota itu. Walau demikian, seorang penduduk bernama Nelma Fernandez mengaku bahwa mencari pasangan di kota tersebut cukuplah sulit. Kebanyakan pria yang ditemui sudah menikah dan semuanya sepupu.

Para wanita pun saling membantu satu sama lain. Jika terjadi perselisihan, mereka dapat mengatasinya dengan baik. Tapi hal ini menimbulkan masalah baru karena banyak wanita di sana kota itu menjadi kekurangan laki-laki. Maka dari itu, desa Noiva do Cordeiro mendapat sebutan desa yang haus suami karena hampir semua penduduknya dihuni oleh wanita-wanita cantik.


Help US With Share