Begu Ganjang, Hantu Menyeramkan Dari Sumut

Help US With Share

Banyaknya keanekaragaman budaya di Indonesia, berbanding lurus dengan jumlah mitos dan kisah mistis yang berkembang di masyarakat. Diketahui juga, tiap daerah Indonesia memiliki kisah mistis dan hantu lokalnya masing-masing. Misalnya saja Nyi Roro Kidul di daerah Parangtritis, Yogyakarta atau Leak yang ada di tanah Bali dan dipercaya sebagai hantu paling menyeramkan di sana.

Mitos yang berasal dari pulau Sumatera, tepatnya Sumatera Utara, begu ganjang merupakan salah satu hantu yang masuk ke dalam daftar hantu lokal yang menyeramkan. Terkadang, begu ganjang terlihat berukuran normal seperti manusia biasa, tapi secara perlahan dia akan tumbuh tinggi, sehingga saat kita terus melihatnya, kepala akan mendongak ke atas. Dikatakan begu ganjang sering mencekik atau menggigit korbannya hingga meninggal. Begu ganjang dikatakan memiliki rambut panjang dan suka berdiam diri di atas pohon yang tinggi.

Begu ganjang diyakini membawa segala hal yang berbau mistis ke dalam kehidupan. Begitu kuatnya kepercayaan masyarakat, pemerintah daerah Simalungun bahkan pernah membuat sebuah pertemuan bersama seluruh lurah dan camat, dengan tujuan memberantas kepercayaan terhadap begu ganjang ini.

Secara bahasa, begu berarti hantu dan ganjang berarti panjang. Jadi disimpulkan nama hantu ini didasarkan kepada perawakannya yang tinggi, menyeramkan dan membuat nyali menciut. Menurut cerita masyarakat, hantu ini pada zaman dahulunya dipelihara oleh warga untuk tujuan mencelakai lawan, atau sebagai sarana pesugihan. Selain ditakuti, orang yang memelihara begu ganjang pada masa itu diyakini memiliki kekayaan yang sangat banyak. Konon, begu juga ada beberapa jenis seperti sambaon, solobean, dan silan. Namun dari beberapa jenis tersebut begu ganjanglah yang paling ditakuti.

Walau ditakuti, tidak sedikit masyarakat yang resah terhadap pemeliharaan begu ganjang. Berawal dari pemanfaatan begu ganjang untuk tujuan kejahatan, keresahan warga berujung pada pembunuhan orang yang dituduh memelihara hantu tersebut dengan cara yang sadis. Seperti yang dicatat majalah Tempo edisi 6 Januari 1988, sepanjang tahun 1987 terjadi 20 pengeroyokan sadis terhadap orang yang diduga memelihara begu ganjang. Hal tersebut membuat Bupati Simalungun pada masa itu, J.P. Silitonga mengeluarkan perintah untuk mengganyang begu ganjang, karena sudah tidak tahan dengan sikap warga yang menurutnya mendekati cara PKI dalam membunuh korbannya.

Warga pada masa itu akan bergerombol mendatangi dan membunuh orang yang diduga memelihara begu ganjang. Dan jika tertangkap, mereka akan mengaku bersama dan minta diadili bersama-sama. Dalam salah satu catatan Tempo, salah seorang warga bahkan dibunuh dengan tombak yang menghunus matanya sampai tembus ke tengkorak, dan badannya tercabik-cabik karena ayunan kapak. Kasus terakhir terkait begu ganjang ini terjadi pada tahun 2010, di mana sebuah keluarga di Tapanuli Utara dibakar hidup-hidup karena diduga memelihara begu ganjang.

Selain bisa dimanfaatkan oleh pemiliknya untuk mencelakai orang lain, ada hal lain yang bikin begu ganjang ini menyeramkan. Yaitu jika kita bertemu dan melihat langsung sosoknya, bisa dipastikan kita akan sakit, atau kemungkinan terburuknya meninggal dunia, dan cerita tersebut tidak hanya isu belaka. Salah seorang warga Deli Serdang pernah mengatakan, jika kejadian mistis begu ganjang pernah menimpa tetangga rumahnya.

Menurut ceritanya, sang tetangga yang saat itu berlibur ke daerah Berastagi, memetik jeruk tanpa izin pengelola kawasan. Setelah itu si tetangga mengalami sakit perut tanpa gejala medis. Keluarga pun memutuskan untuk membawanya ke paranormal. Oleh paranormal dikatakan kalau penyakit tanpa gejala medis tersebut disebabkan oleh begu ganjang yang merasa kesal dengan tindakan memetik jeruk tanpa izin tersebut.

Setelah itu keluarga dan korban berusaha kembali ke Berastagi sesuai anjuran paranormal, untuk meminta maaf dan melakukan ritual adat bersama pemilik kebun. Namun ritual yang dilakukan tidak berhasil, karena katanya begu ganjang tidak mau memaafkannya. Hal itu pada akhirnya diyakini menjadi penyebab korban meninggal dunia, karena kondisinya kian memburuk setelah kunjungan tersebut.

Tapi meski begitu, seorang paranormal di Kota Medan bernama Abah Rahman, mengatakan jika tidak semua cerita tentang begu ganjang yang bikin seseorang sakit tanpa gejala medis itu benar. Ia menyarankan masyarakat agar lebih bijak dalam memilah informasi apalagi menuduh hal tersebut merupakan ulah seseorang yang memelihara begu ganjang. Ia meyakini kalau begu ganjang itu ada hingga saat ini. Namun ia meminta untuk tidak sembarangan membahas dan mengaitkan begu ganjang dengan persoalan tertentu karena akan menimbulkan dampak yang berbahaya.

 


Help US With Share