Selat Bali Ada Karena Seorang Brahmana

Help US With Share

Pada jaman dulu di kerajaan Daha ada seorang Brahmana yang benama Sidi Mantra yang sangat terkenal akan kesaktiannya. Selain sakti Sidi Mantra juga seorang yang berbudi pekerti luhur dan disegani oleh masyarakat karena memiliki pengetahuan agama yang luas. Sanghyang Widya atau Batara Guru memberinya hadiah berupa harta benda dan seorang istri yang cantik. Setelah bertahun-tahun menikah, akhirnya mereka mendapat seorang anak yang bernama Manik Angkeran.

Berbeda dengan Bapaknya, Manik Angkeran ini manja, doyan judi dan metajen. Judinya nggak kecil-kecilan yang sekedar taruhan seribu atau dua ribu, bahkan sampai mempertaruhkan harta keluarga.

Kalah banyak, hutang banyak, Manik Angkeran pun kebingungan. Karena bingung mencari uang di mana, akhirnya Ia minta tolong ayahnya. Sebagai ayah yang baik, Sidi Mantra berusaha untuk mencari bantuan untuk melunasi hutang-hutang anaknya. Doa dan puasa pun dilakukan Sidi Mantra sampai akhirnya dia mendengar suara gaib yang menyuruhnya untuk pergi ke Gunung Agung dan menemui Naga Basuki.

Setelah itu Sidi Mantra pergi ke Gunung Agung untuk menemui Naga Basuki sang penjaga harta karun di Gunung Agung. Dan bener aja, sampai di sana Sidi Mantra dibantu oleh Naga Basuki. Dengan sedikit menggeliat, harta berupa emas pun bermunculan. Kemudian harta tersebut diambil dan diberikan ke Manik Angkeran.

Setelah hutang lunas, Manik Angkeran pun memulai lagi aksinya tanpa jera. Judi lagi, tajen lagi, kalah lagi. Hutang banyak, minta tolong orang tuanya lagi. Siklus yang sama kembali terjadi.

Meskipun sudah diperingatkan oleh ayahnya berkali-kali Manik Angkeran tetap saja melakukan perjudian dan bertaruh aduhan ayam. Manik Angkeran meminta bantuan ayahnya lagi tapi kali ini ayahnya tidak mau membantunya. Sehingga Manik Angkeran bertekad untuk mencari tahu sumber kekayaan ayahnya didapat dari mana. Kemudian ia pun bertanya-tanya kesana kemari dan beberapa temannya memberi tahunya bahwa ayahnya mendapatkan kekayaan di Gunung Agung.

Setelah Manik Angkeran sampai di Gunung Agung, Manik Angkeran membunyikan genta milik Sidi Mantra. Karena merasa terpanggil Naga Basuki pun merasa terpanggil oleh suara genta tersebut. Tetapi Naga Basuki heran kenapa ia tidak mendengarkan mantra-mantra yang biasa ia dengar dari Sidi Mantra. Setelah keluar, maka bertemulah Sang Naga dengan Manik Angkeran untuk pertama kali. Melihat Manik Angkeran, Naga Basuki pun tidak dapat menahan amarahnya.

Melihat kesedihan Manik Angkeran, karena akan dibunuh kalau nggak bayar hutang, Sang Naga pun merasa kasihan. Setelah memberikan nasehat kepada Manik Angkeran, Naga Basuki pun membalikkan badannya untuk mengambil harta yang berada di dalam Bumi. Pada saat Naga Basuki membenamkan kepalanya ke dalam Bumi, Manik Angkeran melihat ekor Naga Basuki yang penuh dengan emas dan intan maka timbullah niat jahatnya untuk memotong ekor tersebut. Sesegera mungkin Manik Angkeran mengeluarkan keris yang ia bawa dan memotong ekor Naga Basuki dengan satu kali tebasan. Naga Basuki menggeliat dan segera membalikkan badannya. Namun Manik angkeran telah pergi menjauhinya.

Naga Basuki pergi mencari Manik Angkeran ke segala penjuru tetapi ia tidak menemukannya. Naga Basuki hanya menemukan bekas telapak kaki Manik Angkeran. Maka dari itu dengan kesaktiannya Naga Basuki membakar bekas telapak kaki Manik Angkeran. Meskipun Manik Angkeran jauh, dengan kesaktian Naga Basuki, Manik Angkean dapat merasakan panasnya api Naga Basuki sehingga Manik Angkeran terjatuh dan lama-kelamaan menjadi abu.

Di Jawa timur Sidi Mantra merasa gelisah. Ia cemas karena anaknya telah menghilang dan masih belum kembali ke rumah. Sidi Mantra juga kehilangan genta yang biasa ia gunakan untuk pemujaan. Tetapi Sidi Mantra mengetahui bahwa anaknya telah mengambil genta pemujaannya.

Sidi Mantra merasa anaknya pergi ke Gunung Agung untuk meminta bantuan Naga Basuki. Maka dari itu Sidi Mantra berangkat menuju Gunung Agung untuk mencari Manik Angkeran. Sesampainya di Gunung Agung, ia melihat Naga Basuki yang berada di luar persembunyiannya.

Bertanyalah Sidi Mantra kepada Sang Naga Basuki dimanakah anaknya berada. Naga Basuki pun menjawab bahwa Manik Angkeran telah menjadi abu dan sudah meninggal. Sidi Mantra memohon kepada Naga Basuki supaya anaknya dihidupkan lagi. Naga Basuki menyanggupi permohonan Sidi Mantra tetapi dengan satu syarat, Sidi Mantra harus mengembalikan ekor Naga Basuki seperti semula. Dengan kesaktiannya Sidi Mantra pun mampu mengembalikan ekor Naga Basuki seperti semula.

Setelah itu Naga Basuki menghidupkan kembali Manik Angkeran. Sebab hal itulah Manik Angkeran sadar dan meminta maaf kepada ayahnya serta berjanji tidak akan mengulangi perilaku buruknya lagi. Manik Angkeran juga meminta maaf kepada Naga Basuki. Begitu pula Sidi Mantra berterima kasih kepada Naga Basuki karena telah menghidupkan kembali Manik Angkeran.

Meskipun Manik Angkeran telah berubah, Sidi mantra menyuruh Manik Angkeran untuk tetap tinggal di sekitar Gunung Agung. Manik Angkeran pun menuruti perintah ayahnya itu, sementara Sidi Mantra pulang ke jawa Timur.

Sesampainya di Tanah benteng, Sidi Mantra menorehkan tongkatnya ke tanah untuk membuat garis yang memisahkan dirinya dengan Manik Angkeran. Saat itu juga bekas torehan tongkatnya menjadi lebar dan bertambah luas sehingga air laut naik menggenanginya. Genangan air laut itu terus melebar dan lama-kelamaan menjadi sebuah selat. Selat tersebutlah yang sekarang ini diberi nama “SELAT BALI”, selat yang memisahkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali.

 


Help US With Share