Mitos Pohon Beringin Kembar Alun-Alun Kidul Yogyakarta

Help US With Share

Saat berkunjung ke Kota Yogyakarta, tidak lengkap rasanya bila tidak mengunjungi alun-alun kidul. Berbeda dengan alun-alun utara (Altar) yang menghadap langsung ke kawasan Malioboro, alun-alun kidul (Alkid) berada di belakang kawasan Keraton Yogyakarta.

Alun-alun kidul (Alkid) memang menjadi tempat wisata di Yogyakarta yang ramai dikunjungi dengan banyaknya penjaja kuliner lokal ala angkringan dan juga odong-odong warna-warni di malam hari.

Menjadi salah satu tempat hiburan rakyat, alun-alun kidul Yogyakarta menyimpan segudang misteri. Tidak lepas dari hawa mistis, alun-alun kidul memiliki beberapa pohon beringin yang sudah ada sejak puluhan tahun silam.

Rimbun beringin di tengah Alun-alun Kidul Yogyakarta, menjadi corak yang melengkapi keindahan halaman belakang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dua beringin kembar tersebut berdiri kokoh, masing-masing dikelilingi tembok putih cantik yang menjadikan pohon kembar tersebut menarik untuk dinikmati. Lembutnya belaian angin menjadikan daun beringin nan tinggi riuh rendah menari. Namun, di balik ketenangannya, beringin kembar memiliki  mitos yang sudah lekat sedari lampau pada dirinya.

Hal tersebut disampaikan oleh salah seorang warga di sekitar pohon beringin, alun-alun kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia menjelaskan adanya mitos yang lekat pada pohon beringin kembar tersebut.

Mitos tersebut dinamakan Laku Masangin yang merupakan singkatan dari masuk dua beringin. Laku Masangin dilakukan dengan sederhana, yaitu menutup mata lalu berjalan lurus dari arah keraton, hingga melewati kedua pohon beringin yang berjarak sekitar 20 meter dari depan Sasono Hinggil, menuju dua beringin di tengah alun-alun.

Namun, dalam pelaksanaannya, hal itu tidaklah mudah. Banyak pengunjung yang gagal berjalan lurus menuju tengah-tengah beringin, pengunjung justru berjalan menuju berbagai arah. Entah itu berbelok ke arah kanan, maupun sisi kiri pohon beringin. Dipercaya dalam mitos Laku Masangin, hanya orang yang memiliki hati bersih yang dapat mencapai arah tujuan, yaitu melintasi kedua pohon beringin tersebut. Selintas, mitos ini sudah seperti permainan belaka, permainan yang patut dicoba jika berkunjung ke alun-alun kidul.

Tradisi masangin ini ternyata mulai dikenal sejak Sri Sultan Hamengkubuwono I berkuasa. Saat sang putri mendapatkan pinangan dari seorang laki laki, putri tidak terlalu menyukai calon suaminya. Akhirnya dia mengajukan satu tantangan, yaitu untuk berjalan dengan mata tertutup melewati pohon beringin kembar hingga sampai ke pendopo keraton. Sayangnya orang tersebut gagal dan Sultan berkata bahwa siapa pun yang dapat melewati tantangan tersebut haruslah memiliki hati yang bersih dan tulus.

Di lingkungan keraton, tradisi masangin memang dipercaya sebagai ajang untuk mendapatkan berkah. Namun, ada hal yang harus dilakukan sebelum melakukan masangin.

Biasanya abdi dalem atau keluarga keraton melakukan puasa bicara semalam suntuk pada malam 1 suro, sambil mengelilingi keraton hingga alun-alun. Siapapun yang berhasil melakukan puasa dan masangin ini, konon akan mendapatkan berkah atau keinginannya terwujud.

Tidak heran jika banyak beredar tentang tuah dua pohon beringin tersebut yang konon bisa membuat seseorang yang memiliki niat jahat dalam hatinya kehilangan kesaktian atau kemampuan saat melewati pohon tersebut.

Berbagai alasan dan kepercayaan menjadikan dasar bagi setiap orang untuk dapat memercayai ataupun tidak pada mitos yang ada. Namun, menutup ceritanya, Purwati selaku masyarakat lokal dari Yogyakarta sendiri mengatakan, sebagai orang Jogja, khususnya orang jawa, harus saling menghormati keyakinan dan pendapat orang lain.

Mitos lain yang berkembang seputar beringin kembar di Alun-alun Kidul adalah hubungan dengan laut selatan atau segoro kidul. Ada yang menyebut jika beringin kembar di Alun-alun Kidul merupakan pintu gerbang ke laut selatan.

Kepercayaan seputar mitos ini berkembang ketika di zaman HB VI. Dalam kepercayaan warga lokal, Keraton Yogya memang memiliki ‘hubungan’ spesial dengan Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan.

Makanya banyak yang meyakini bahwa dahulu orang-orang yang hendak berbuat jahat ke Keraton Yogyakarta akan kehilangan kesaktiannya setelah melewati kedua beringin kembar tersebut.

Beringin di sisi barat dikenal dengan sebutan Kyai Dewadaru sedangkan di sisi timur dikenal sebagai Kyai Janadaru. Dewadaru bermakna cahaya ketuhanan, sedangkan Janadaru arti cahaya kemanusiaan. Keduanya merupakan simbol dari keseimbangan hidup dan keserasian antara hubungan raja dan rakyatnya serta kedekatan antara Tuhan dan manusia


Help US With Share