Mitos Di Kota Sragen

Help US With Share

Sragen dikenal sebagai lokasi perjuangan Pangeran Mangkubumi yang kelak menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono yang. Selain itu, tempat ini juga dikenal dengan keberadaan fosil manusia dan hewan purba.

Namun seperti daerah di Indonesia lainnya, tempat ini juga penuh dengan mitos dan kepercayaan akan kekuatan makhluk yang halus. Sebagian warga Sragen masih memegang teguh kepercayaan atau mitos yang kadang sulit diterima logika. Terlepas dari kontroversi yang ada, mitos yang berkembang menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Jawa.

Berikut beberapa mitos populer yang berkembang di masyarakat Sragen.

BATU KERAMAT PASAR KOTA SRAGEN

Tepat di sebelah barat sumur yang berada di bagian tengah pasar, terdapat salah satu los yang berbeda dengan los pedagang pada umumnya. Jika los lain berisi aneka dagangan milik pedagang, los ini hanya berisi dua buah batu. Namun, dua buah batu yang berukuran cukup besar itu bukan sekadar batu biasa. Dua buah batu itu dikeramatkan di kalangan pedagang dan pengunjung pasar.

Permukaan satu dari dua batu besar sedikit cekung, satu batu lainnya memiliki permukaan yang datar. Di atas dua batu itu terdapat bunga tabur, di antara dua batu itu terdapat sebuah tungku yang biasa dipakai untuk menyalakan dupa atau wewangian bakar. Di depan batu itu terdapat tikar yang terbuat dari serat pelepah pisang.

Tikar itu biasa dipakai para peziarah duduk bersila. Para pedagang biasa menyebut dua batu besar itu Mbah Watu atau Eyang Watu. Ada yang menyebut dua batu besar itu sebagai makam Mbah Watu atau Eyang Watu. Ada pula yang menyebut bahwa dua batu itu semacam petilasan dari Mbah Watu. Namun, siapakah Eyang Watu itu, belum ada penjelasan lebih lanjut. Ada pula yang penyebut Mbah Watu merupakan sebutan dua batu besar itu sendiri.

Menurut mitos yang berkembang di sebagian pedagang, sosok Eyang Watu menjadi “pelindung” para pedagang dari mara bahaya. Sebagian pedagang percaya bila suasana pasar lebih “adem” karena ada sosok Eyang Watu.

BATU TIDAK DAPAT DIPINDAH

Sebuah batu dengan diameter sekitar satu meter berada tidak jauh dari gua petilasan Pangeran Mangkubumi di Dukuh Gebangkota, Desa Gebang, Masaran, Sragen. Sebagian dari batu itu masih terpendam di tanah. Sepintas, tidak ada yang istimewa dari batu itu, namun batu itu ternyata cukup dikeramatkan oleh warga sekitar.

Batu itu berlokasi di tepi jalan yang masih berupa tanah. Supaya tidak mengganggu akses jalan yang baru dibangun, warga setempat sempat ingin memindah batu itu ke lokasi lain. Sebuah ekskavator sudah dikerahkan untuk memindahkan batu itu dari tempatnya, namun ekskavator itu tidak mampu mengangkat batu tersebut.

Teka-teki terkait misteri batu yang konon tidak mau dipindah itu akhirnya terjawab. Seorang sesepuh warga memberi tahu bila batu itu sejatinya adalah nisan dari seorang panglima perang wanita yang menjadi pengikut setia dari Pangeran Mangkubumi bernama Panembahan Senopati Nyai Tuginah Wiro Atmojo atau putri dari Tumenggung Wiro Atmojo.

KAMPUNG ANTI SINDEN

Di Desa Kandangsapi, Kecamatan Jenar, Sragen, hidup mitos terkait kampung atau dukuh anti sinden bernama Singomodo. Kampung ini berlokasi tidak jauh dari makam Syekh Nasher atau Eyang Singomodo.

Eyang Singomodo dikenal sebagai salah satu tokoh penyebar agama Islam dari keturunan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada masa kepemimpinan PB II. Untuk menandai batas wilayah Kampung Singomodo, Syekh Nasher membuat pematang di sekeliling kampung. Hingga kini, pematang yang mengitari kampung itu juga masih ada.

Suatu hari, Syekh Nasher mengajak pengikutnya membuat tempat tinggal. Namun, ada salah satu pengikut bandel. Bukannya ikut membantu membuat tempat tinggal, pengikut itu justru melihat pertunjukan ledek. Karena dianggap melanggar norma kesopanan, salah satu pengikut dan seorang ledek itu dipanggil Syekh Nasher. Keduanya ditawari menikah dan diminta tinggal ke barat jalan, sedangkan Syekh Nasher dan pengikut setianya tinggal di timur jalan.

Syekh Nasher kemudian mengeluarkan maklumat melarang pengikut yang tinggal di wilayah timur jalan mendengarkan atau membunyikan gamelan yang biasa dipakai untuk mengiringi sinden. Mereka juga dilarang menggelar hajatan atau hiburan yang mengundang sinden jika tidak ingin mendapat musibah.

Konon, ada salah seorang warga yang pernah nekat mengundang sinden. Namun, begitu sindennya itu pergi kejadian aneh langsung terjadi. Warga tersebut kejatuhan buah kelapa tepat di kepalanya hingga akhirnya meninggal dunia. Sejak saat itulah, warga setempat enggan mengundang sinden karena masih percaya dengan mitos yang berkembang dari masa lalu.

KERAJAAN GAIB WADUK KEDUNG OMBO

Waduk Kedung Ombo yang berlokasi di tiga kabupaten di Jawa Tengah, yakni Sragen, Boyolali dan Grobogan ini menyimpan cerita misteri dan melegenda.

Salah satu cerita yang sering muncul adalah adanya kerajaan gaib di waduk seluas 6.576 hektar ini. Konon, beraneka ragam makhluk halus di waduk ini sering bergentayangan.
Waduk yang luas ini ternyata menjadi salah satu tempat favorit untuk membuang makhluk halus. Ada yang berupa jin pesugihan, jin gentayangan meresahkan warga, hingga khodam dari benda pusaka.

Konon, kerajaan gaib di Waduk Kedung Ombo dipimpin oleh seorang ratu. Dia dikenal sebagai sosok yang menjaga adab dan sopan santun. Walau begitu, ternyata ada sosok lain yang katanya sering meminta tumbal di Waduk Kedung Ombo. Sosok tersebut dikenal sebagai buto.

PENGANTIN DIBOPONG KE SENDANG

Ritual unik harus dijalani pasangan pengantin asal Dukuh Sendang, Desa Kalangan, Gemolong, Sragen. Sepasang pengantin yang sudah dirias akan dibopong warga menuju ke sendang yang tidak jauh dari kampung tersebut.

Terdapat dua sendang di lokasi tersebut , warga biasa menyebutnya dengan istilah sendang lanang dan sendang wadon. Sendang itu memiliki sumber air yang tidak pernah kering, sendang itu sudah dimanfaatkan airnya oleh warga sekitar sejak zaman nenek moyang. Di dekat sendang itu terdapat sebuah patung Ganesha yang bagian kepalanya sudah hilang.

Sendang itu juga ramai saat warga setempat menggelar hajatan pernikahan. Warga berdatangan untuk menyaksikan ritual yang dijalani pasangan pengantin sebelum mengikuti prosesi pernikahan di rumah. Ritual ini tidak bersifat wajib, namun warga sekitar menganjurkan tradisi ini dijalani pengantin yang pasangan perempuannya adalah warga sekitar.

Setelah dibopong menuju sendang, pasangan pengantin itu diminta duduk di atas tikar. Di atas tikar itu keduanya diajak berdoa oleh seorang nenek tua yang memimpin ritual. Di hadapan mereka, terdapat kendi yang berisi air dari sendang.

Selanjutnya, nenek itu mengajak pasangan pengantin berdiri. Nenek itu tua itu selanjutnya mengucurkan air dalam kendi sambil berjalan diikuti pasangan pengantin dan pengiringnya. Mereka memutari lokasi hingga tiga kali, sesuai dengan garis yang dibuat dari kucuran air kendi itu.

Selain pasangan pengantin, beberapa peralatan gamelan juga dibawa warga ke sendang. Gamelan itu dibunyikan untuk mengiringi perjalanan pasangan pengantin selama mengikuti ritual. Tradisi yang dijalani pasangan pengantin itu sudah membudaya di lima dukuh di dua desa.

RITUAL PESUGIHAN DI GUNUNG KEMUKUS

Nama Gunung Kemukus sempat mendunia setelah sejumlah media asing memberitakan fenomena ritual “sex mountain” di objek wisata itu.
Menurut mitos yang berkembang, berhubungan seks dengan pasangan tidak resmi di Gunung Kemukus merupakan bagian dari ritual yang harus dijalani para peziarah Makam Pangeran Samodro untuk mendapatkan kekayaan.


Help US With Share