Misteri Suanggi

Help US With Share

Masyarakat Indonesia memang tidak pernah lepas dari berbagai cerita mistis yang membuat merinding. Kisah-kisah horor ini pun juga berlaku di daerah paling timur Indonesia. Bila sebagian orang takut dengan sosok pocong, kuntilanak, gondoruwo dan lainnya. Warga di wilayah Papua meyakini makhluk yang dijuluki Suanggi atau Suangi. Kisah tentang hantu ini pun tidak boleh diceritakan sembarangan.

Suanggi atau Swangi (Suwangi) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti burung hantu, namun juga mengacu kepada kepercayaan lama masyarakat suku Aru, atau roh jahat yang dipercaya suku Belu selalu mengembara untuk memangsa manusia.

Namun, bagi masyarakat Indonesia Timur, Suanggi atau Swangi (Suwangi) menjadi nama yang terkenal sekaligus menakutkan. Hal ini dikarenakan Suanggi adalah sejenis ilmu hitam dan juga menjadi sebutan bagi dukun atau orang yang menekuni ilmu hitam tersebut. Suanggi ditakuti karena ilmu hitam ini dapat digunakan untuk membunuh musuh atau orang yang dibenci. Penganut atau dukun Suanggi biasanya hidup di hutan dan terkadang hidup berbaur dengan masyarakat sekitar.

Beberapa daerah di Indonesia Timur khususnya Papua menyebut Suanggi dengan sebutan berbeda-beda, seperti di Yapen Barat menyebutnya Nyata, sedangkan di Yaben Utara menyebutnya Hinata. Beberapa daerah di Kabupaten Yapen, yakni Poom, Ansus, Woy, dan Marau, ditakuti warga untuk didatangi karena ilmu Suanggi masih kental dimiliki oleh warga setempat.

Suanggi juga dikenal hingga di Kecamatan Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara. Di daerah ini, Suanggi dikenal memiliki wujud seorang perempuan cantik dan mengincar laki-laki hidung belang untuk berhubungan intim. Setelah itu barulah Suanggi menyerang dan memakan alat kelamin pria tersebut. Di Nusa Tenggara Timur, Suanggi berwujud nenek cantik yang menyimpan sangat banyak kedengkian kepada warganya. Nenek cantik yang hidup pada tahun 1895 di sebuah kampung di Nangaroro, Kabupaten Nagekeo ini akhirnya ingin melampiaskan kedengkiannya terhadap seorang bapak yang pulang dari memancing dan berhasil mendapatkan banyak ikan. Kemudian sang nenek ingin agar sang bapak tersebut tidak lagi mendapatkan banyak ikan. Hingga suatu saat, sang nenek datang dan menyembah sebuah pohon besar selama 40 hari. Setelah itu, sang nenek mendengar sebuah bisikan untuk segera pulang ke rumah dan mempraktikkan ilmu hitam yang diperolehnya. Namun, ketika mempraktikkan ilmu hitamnya tersebut, sang nenek akhirnya tewas dan arwahnya gentayangan mencari mangsa.

Suanggi biasanya melakukan aksinya pada malam hari. Salah satu ciri kedatangannya bisa terlihat seperti bola api yang melayang-layang di atas rumah calon korban. Suanggi juga dapat berubah bentuk dari bola api menjadi sosok hantu perempuan dengan wajah mmenyeramkan.

Di Maluku atau Halmahera, Suanggi diceritakan sering muncul pada malam hari, berwajah seram dengan kepala bersayap, yang terbang mencari mangsanya. Suanggi juga dikenal di daerah ini dengan ritual mistiknya, yaitu menari di tengah bulan Purnama.

 

Dalam melakukan pembunuhan, Suanggi menggunakan mantra yang mengubah dirinya menjadi bayangan ke rumah korban. Setelah itu, dalam beberapa hari korban akan sakit tidak wajar dan tidak mampu dideteksi oleh ilmu medis. Secara kasat mata, ciri-ciri Suanggi tidak bisa dilihat. Suanggi hanya bisa dilihat oleh orang yang berilmu tinggi. Dalam penglihatannya tersebut, Suanggi seperti memiliki mata terang yang menyala, bergigi tajam, terkadang berbentuk hewan serta memiliki aroma binatang kuskus.

Mitos lain mengatakan, Suanggi hanya memakan daging orang Papua karena rasanya lebih nikmat dari daging orang suku lainnya. Maka dari itu, Suanggi enggan memangsa atau menyerang orang yang berasal dari luar Papua.

Ilmu hitam Suanggi menuntut orang yang mempelajarinya untuk menyediakan tumbal dari keluarganya atau keturunannya sendiri. Jika tidak kuat mental dan memenuhi salah satu persyaratan, orang tersebut dapat mengalami gangguan jiwa. Suanggi juga dituntut untuk memakan bagian tubuh mayat, biasanya isi perut yang menjadi korbannya untuk menambah ilmu mereka. Perubahan manusia menjadi makhluk berwujud Suanggi melalui proses yang panjang, bahkan Suanggi disebut harus memakan daun khusus yang hingga kini masih misterius namanya.

Supaya seseorang dapat menjadi Suanggi, dia harus belajar dengan Suanggi lainnya. Ujian terakhirnya, yang belajar ilmu Suanggi harus dimutilasi dan harus dapat hidup kembali dengan ilmu yang telah dipelajari. Cara lainnya adalah dengan cara terkena efek dari daun Suanggi, yakni sejenis tanaman tertentu. Di mata manusia umum, dapat berupa daun singkong atau daun pisang, namun dalam penglihatan para Suanggi daun singkong atau daun pisang itu sesungguhnya adalah daun Suanggi. Jika masuk ke dalam tubuh, orang yang makan daun Suanggi dapat terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan orang yang terkena efek dari daun Suanggi secara tidak langsung disebut sebagai Suanggi.

Beberapa informasi menyebutkan bahwa Suanggi memiliki beberapa pantangan, yakni jerut purut, ikan poro babi, dan coral laut. Jika Suanggi dihadapkan dengan benda-benda tersebut, Suanggi akan berubah menjadi beringas dan jahat.


Help US With Share