Legenda Kutukan Di Indonesia

Help US With Share

Kutukan adalah sebuah keinginan dalam bentuk kesengsaraan atau, kemalangan yang akan menimpa atau jatuh ke beberapa hal atau kepada manusia. Bagi orang Indonesia, kutukan bukan hal yang baru, dan hal ini sudah ada sejak zaman dahulu kala. Konon, hidup dari orang yang dikutuk menjadi menderita, mati, atau berubah menjadi objek tertentu seperti batu. Berikut legenda kutukan yang ada di Indonesia.

KUTUKAN LEMBU SURO DI GUNUNG KELUD

Kutukan ini, diucapkan karena raja mengingkari janjinya untuk menikahkan Lembu Suro dengan putrinya yang bernama kali suci. Bahkan, mengubur Lembu Suro itu di sumur yang sangat dalam di Gunung Kelud. Terlepas dari atau tidak benarnya cerita ini, saat gunung Kelud meletus, kerajaan pahit yang berada di sekitar gunung itu ikut lenyap dari peradaban. Saat Gunung Kelud mulai meningkat aktivitasnya, maka ada juru kunci yang akan memberikan sesajen. Hal ini, dilakukan agar Lembu Suro tidak lagi mengamuk.

KUTUKAN KAMPUNG MENJADI BATU

Seorang raja yang tidak bisa memenuhi apa yang dia janjikan, dan mengutuk semua orang di desa menjadi batu karena tidak mau menikahkan putrinya dengan anjing. Kejadian ini berawal saat alat tulis sang putri terjatuh. Lalu raja mengatakan, jika ia akan menikagkan putrinya dengan siapa pun asal mau mengambilkan alat yang jatuh itu. Namun, sayangnya anjing dari kerajaanlah yang mengambil alat itu dan akhirnya menjadi raja dan seluruh orang di desa tersebut. Tempat ini terletak di Desa Cabeng, Kecamatan Bone, Sulawesi Selatan, tepatnya di Gowa. Di tempat itu juga, terdapat objek berbentuk manusia dan hewan.

KUTUKAN PUTRI PUKES

Legenda masa lalu mengatakan, jika Putri Pukes dikutuk menjadi batu karena melalukan hal yang tidak terpuji pada ibunya sendiri. Dikatakan ia menendang sang ibu yang sedang melakukan sholat gara-gara kesal, dan ibunya menasehatinya untuk merelakan suaminya yang hilang saat perang. Mendengar hal itu, Putri Pukes langsung marah besar dan menendangnya. Hal itu membuat ibunya kesal, dan mengutuknya menjadi batu.

DUKUH YANG HILANG DALAM SEMALAM

Dukuh ini terletak di Desa Pekasiran, Kecamatan Bantur, Banjar Negara. Awalnya, desa ini sangat makmur karena memiliki wilayah yang pinggiran kota serta apa saja yang ditanam pasti tumbuh dan menghasilkan panen pertanian yang berlimpah ruah. Sayangnya, kelakuan penduduk Dukuh ini tidak bermoral  dan hal-hal yang berhubungan dengan maksiat selalu dilakukan setiap hari.

Pada suatu malam, saat hujan badai datang dengan dahsyat sebuah longsor langsung memendam semua Dukuh dan semua warga di tempat itu meninggal dunia, dan hanya menyisakan dua orang yang hidup. Warga di sekitar tempat itu tidak percaya jika Tuhan telah memberikan kutukan. Dengan adanya kutukan ini, semua orang akan sadar jika hidup di dunia ini harus sesuai dengan aturan dari Tuhan.

KUTUKAN BERPISAH DARI PASANGAN.

Ada sebuah cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi, tentang tempat-tempat yang berada di air terjun Coban Rondo jika seseorang datang ke tempat itu bersama pasangannya, ada kemungkinan akan terkena kutukan yang sangat buruk berupa berakhirnya hubungan. Kutukan ini, berasal dari Dayang Antarwati yang sudah memiliki suami, dan pada saat itu ada seorang pria yang tertarik dengan kecantikannya, padahal ia sudah memiliki seorang istri. Akhirnya, terjadi pertarungan antara suami dan orang yang tertarik dengan istrinya, dan menyebabkan mereka berdua meninggal dunia. Sejak saat itu, ia menjanda dan berdiri di belakang air terjun Coban Rondo.


Help US With Share