Jere, Batu Nisan Yang Tumbuh Dengan Sendirinya

Help US With Share

Fenomena Jere yaitu sebuah fenomena dimana batu nisan tumbuh dengan sendirinya dari dalam tanah makam keramat di Pulau Bacan, Ternate. Fenomena ini tidak masuk akal bagi orang yang mendengarnya. Tapi, bagi masyarakat setempat hal mistis seperti ini sudah tidak aneh bagi mereka. Kemunculan batu misterius berwarna hitam yang tumbuh dengan sendirinya ini mereka juluki sebagai Jere, tidak pernah ada yang tahu kapan waktu batu ini muncul dan lokasi keberadaannya.

Lokasi Jere yang paling populer berada di samping Masjid Kesultanan Bacan. Ada sebuah bangunan tempat pemakaman khusus untuk keluarga Sultan dan disini dapat terlihat penampakan batu tumbuh Jere di pusara Makam Keramat. Selain kuburan keluarga Sultan, di tempat ini juga ada makam pemuka agama yang memiliki jasa besar dalam menyebarkan agama Islam di Pulau di Bacan Ternate.

Masyarakat asli Ternate meyakini jika makam yang terdapat Batu Nisan Tumbuh Jere merupakan makam dari para aulia atau ulama besar yang menyebarkan Islam, dan makam mereka pun dianggap suci dan keramat.

Kemunculan Jere tidak selalu tumbuh di area makam Masjid Kesultanan Bacan, karena pernah juga terjadi Jere muncul di tengah jalanan. Tidak diketahui ulama besar mana yang pernah dimakamkan di situ, dan sampai sekarang tidak ada yang tahu identitas dari jasad yang dikuburkan dalam makam misterius itu.

Selain di Pulau Bacan, jere juga ditemukan di beberapa kelurahan di Kota Ternate. Salah satunya adalah Jere Kulaba, dimana makam keramat ini paling banyak dikunjungi masyarakat asli setempat maupun luar daerah sebagai tempat untuk meminta anak atau mengobati penyakit.

Jere Kulaba dinilai sangat magis, konon sudah banyak yang membuktikan mitos ini. Banyak orang tua yang mandul, setelah berziarah ke Jere Kulaba akhirnya dapat memiliki anak. Begitu pula dengan orang yang punya penyakit parah, konon langsung sembuh setelah mengunjungi tempat ini.

Jere Kulaba berlokasi di Desa Kulaba, 10 Km dari Pusat Kota, dan akses jalanan menuju tempat ini sudah cukup bagus dan bisa dilalui dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Namun, ada peraturan yang wajib dipatuhi oleh para pengunjung. Mereka diharuskan untuk meminta izin terlebih dahulu kepada penjaga Jere alias kuncen sebelum berziarah di makam tersebut.

Setibanya di pintu masuk kuburan keramat, para peziarah wajib melepas alas kaki dan mengucapkan salam masuk, selanjutnya melakukan ziarah kubur seperti pada umumnya.

Jere Kulaba memiliki satu makam utama dan 3 makam pedamping di sisinya, yang konon tiga makam pendamping ini masih bagian keluarga dari ulama besar yang dikuburkan di makam utama itu. Tinggi pada batu nisan Jere Kulaba mencapai 170 cm.

Konon, batu nisan di kuburan keramat ini berhenti tumbuh sejak tertembak tentara Jepang saat masih menjajah wilayah Ternate dulu. Batu Jere terbelah dua dan bekas patahannya masih bisa dilihat hingga saat ini. Nisan yang patah tersebut sempat disambung kembali pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muhammad Djabir Sjah, ayah dari Sultan Mudaffar Sjah.

Ada satu kisah mistis tentang keistimewaan Jere Kulaba yang sangat diyakini oleh masyarakat asli setempat. Kononzl, pada saat Gunung Gamalama meletus di pertengahan abad 19, lahar gunung turun dan menggenangi seluruh desa-desa yang berada di didekatnya. Anehnya Jere Kulaba ini tidak tersentuh sama sekali, seolah-olah lahar itu menghindar dan segan untuk masuk ke tempat ini.

Menurut cerita Abdullah Nifu, kakek 80 tahun sang penjaga batu nisan yang tumbuh dari dalam tanah makam keramat Jere Kulaba. Jere ini muncul tiba-tiba sejak tahun 1705. Diyakini makam disini merupakan kuburan para Auliya yang menyebarkan agama Islam di Ternate. Namun ia tidak tahu persis nama orang suci siapa yang dimakamkan di makam tersebut. Yang pasti, dirinya ditugasi langsung oleh Sultan Ternate untuk menjaga makam keramat ini.

Banyak orang yang datang ke Jere Kulaba untuk sekedar berziarah hingga memiliki tujuan tertentu. Sudah tidak terhitung baik dari penduduk setempat atau wisatawan lokal yang mengalami penyakit kronis sembuh setelah berziarah ke tempat ini. Begitupun dengan pasangan suami istri yang sudah lama mendambakan keturunan anak. Banyak istrinya tiba-tiba hamil tidak lama selepas pulang dari Jere Kulaba.

Untuk ritual di tempat ini dapat dikatakan tidaklah ribet, hanya perlu membaca doa di makam utama sambil memberikan sajen berupa nasi kuning dan 2 butir telur ayam kampung yang telah dimasak. Nasi kuning beserta telur ayam ini, setelah didoakan akan dibawa pulang kembali untuk dimakan oleh orang yang sakit maupun yang punya hajat. Misalnya saja pasutri yang ingin segera memiliki momongan, ujar Kakek Abdullah Nifu sang penjaga Jere.


Help US With Share