Ashoka, Raja Dinasti Maurya

Help US With Share

Asoka (Ashoka) adalah Raja ketiga dari Dinasti Maurya yang memerintah pada 273-232 SM. Ia disebut sebagai Raja terbesar dalam sejarah India kuno. Sebagai Raja yang mengayomi rakyatnya, Ashoka juga dikenal taat mempraktikkan ajaran Dharma Buddha, sehingga banyak sejarawan Buddha yang menempatkannya sebagai teladan kedua setelah Sang Siddharta Gauttama sendiri.

Pada abad ketiga SM, Kerajaan Magadh yang dipimpin oleh Klan Maurya menguasai hampir seluruh anak benua India, dan hanya menyisakan ujung selatan dan pulau Ceylon (Sri Lanka modern). Namun, para penyebar ajaran Buddha suruhan Ashoka memperluas pengaruhnya ke Pulau Ceylon, sehingga menjadi benteng pertahanan Buddha Theravada berkat usaha Ashoka.

Kebanyakan masyarakat awam di India dan seluruh dunia, pada umumnya mengenal sosok Ashoka dalam sejarah karena kebajikannya, dan raja yang lemah lembut. Namun, sang Raja ternyata banyak menyimpan sejarah yang sering kali luput dari perhatian orang.

Meski dinamai dengan Ashoka Vardhana Maurya atau Ashoka saja, yang berarti tanpa penderitaan (a = tanpa) (soka = penderitaan), namun sang raja lebih memilih memakai gelar Devanampiya Piyadasi yang berarti ‘Kesayangan Para Dewa’ dan ‘Ia Yang Memandang Setiap Orang Dengan Kasih’.

Ia juga pernah diberi nama Chanda Ashoka yang berarti ‘Ashoka Tanpa Ampun’, pada saat membunuh semua saudaranya, termasuk putra mahkota Sushima Maurya.

Menurut kisah turun temurun dari Ceylon, Ashoka membunuh 99 saudaranya untuk melancarkan niatnya menjadi penerus tahta Magadh, dan hanya menyisakan adik bungsunya, yakni Tishya.
Namun, cerita pembunuhan 99 saudara ini adalah murni dibesar-besarkan oleh penulis Buddha yang ingin menekankan bagaimana sang Raja bertransformasi dari ‘Chanda Ashoka’ menjadi ‘Dharma Ashoka’.
Meski membunuh banyak saudaranya, namun Ashoka ternyata masih menyimpan hati dan memilih menyisakan hidup adik bungsunya, Tishya. Tishya kemudian dijadikan Uparaja oleh Ashoka.

Selain Tishya, ternyata beberapa saudara Ashoka juga ikut diangkat menjadi wali kerajaan di beberapa provinsi di Kerajaan Magadh, termasuk Ujjaini, Suvarnagiri, Tosali, dan Taxila. Wali kerajaan ini dipanggil dengan sebutan Aryaputra dan Kumara.

Ashoka lahir pada 304 SM pada masa pemerintahan Chandragupta Maurya yang meninggal pada 298 SM (saat Ashoka berusia 6 tahun). Di usianya yang ke 18, Ashoka dijadikan Wali Kerajaan Avanti, sebuah provinsi di Ujjaini.

Dikatakan bahwa Ashoka menikahi istri pertamanya disana, dan menjadi seorang ayah ketika berusia 20 tahun. Dua tahun setelah pernikahannya, putrinya, Sanghamitra pun lahir.
Istri pertama sang raja, Devi, adalah seorang perawat Buddhis dan putri dari seorang saudagar. Devi adalah ibu dari anak-anak Ashoka, yakni Mahendra dan Sanghamitra. Devi tidak pernah menginjakkan kaki ke Istana Pataliputra ketika Ashoka dipanggil kembali ke ibukota kerajaan.

Sejarawan berpendapat Devi merasa tidak cocok dengan situasi di Istana dan kewajibannya sebagai permaisuri kepala. Beberapa juga berpendapat bahwa Devi sebenarnya adalah anggota dari klan Sakya yang dikenal sebagai pengikut Buddha secara turun temurun.

Salah satu cerita unik Ashoka yang membuat kagum adalah wibawanya yang mampu mencegah perang. Kala itu, Provinsi Taxila pada zaman Kaisar Bindusara terkenal rawan akan konflik sosial karena populasi tentara campuran India-Yunani yang banyak menghuni wilayah tersebut. Ditambah lagi, adanya ketimpangan pemerintahan yang dijalankan oleh Sushim, sang putra mahkota. Inilah yang membuat rakyat provinsi tersebut memberontak.

Namun ketika Ashoka datang ke Taxila atas desakan Sushim, ia malah disambut dengan tangan terbuka oleh rakyat. Perang pemberontakan pun langsung usai hanya dengan kehadiran Ashoka.
Atas tekanan Sushim dan saudara-saudaranya yang khawatir Ashoka berpeluang menjadi raja selanjutnya, Bindusara pun kemudian mengirimnya ke pengasingan. Berdasarkan cerita turun temurun, momen pengasingan ini terjadi tepat setelah Ashoka menenangkan daerah Taxila.

Dalam pengasingannya, Ashoka bertemu seorang nelayan wanita bernama Karuvaki (Charuvaki/Kaurwaki). Ia menjadi istri ketiga Ashoka dan ibu dari putra keduanya, Tivala. Karuvaki adalah satu-satunya ratu yang pernah diberi maklumat oleh Ashoka.

Karena Devi menolak menjadi permaisuri dan bukan merupakan keturunan bangsawan, maka Ashoka menjadikan Asandhimitra, seorang putri bangsawan menjadi kepala permaisurinya. Asandhimitra tidak memberi keturunan kepada Ashoka, namun Ashoka tetap setia.

Sebagai perbandingan, Chandragupta Maurya memerintah selama 24 tahun, Bindusara, penerusnya selama 25 tahun, serta Ashoka, Samrat (raja) ketiga dari Kerajaan Mauryan, selama 40 tahun lamanya. Selama masa itu pula Ashoka tetap menjadi Chakravartin dengan kekuatan tak terbatas.
Tidak seperti pendahulunya dan raja-raja tetangganya, Ashoka tidak pernah menghadapi perang dengan pihak luar, dan tetap menjaga hubungan baik dari kaum Yunani yang sebelum masanya dikenal sering menyerang wilayah Persia dan India.

Semua orang yang pernah membaca cerita Ashoka Yang Agung tahu bahwa sang Samrat memilih untuk memeluk Buddha setelah Perang Kalinga. Namun, Ashoka diyakini sebagai pemuja setia Dewa Siwa sebelum akhirnya memilih untuk menjalankan prinsip Dharma Buddha. Ini tidak lain karena Klan Maurya yang menjadi penguasa kerajaan adalah pengikut Siwa.

Ada beberapa hal yang membuat Samrat Ashoka patut dijadikan teladan oleh pemimpin manapun di seluruh dunia tidak terkecuali hingga saat ini. Ia membangun rumah sakit bagi rakyatnya dan ternak, baik di dalam maupun diluar negerinya.

Di jalan-jalan besar, banyak pohon beringin ditanam untuk menghalangi terik sinar matahari, pohon mangga ditanam untuk memberi buah secara cuma-cuma, banyak sumur digali, sumber air dibangun, serta rumah singgah disediakan bagi orang-orang dan hewan yang kelelahan dalam perjalanan.

Ia banyak melakukan kunjungan rohani ke tempat-tempat suci di India, dan mengajarkan hidup sederhana kepada setiap warga yang ditemuinya. Ia seringkali keluar dari ibukota selama 10 bulan lamanya. Ia pun mengangkat petugas yang dinamakan dharma mahamatra, untuk mengatur perilaku warganya.

Ashoka menganggap semua warganya sebagai ‘anak-anaknya’ dan menganggap dirinya sebagai orang yang dipercaya untuk mengurus kesejahteraan mereka. Ia mengajak orang untuk bermeditasi, menghindari kekerasan, dan tidak menyakiti sesama manusia dan hewan.


Help US With Share