Gunung Ciremai, Gunung Indah Dengan Banyak Mitos dan Misteri

Help US With Share

Gunung Ciremai merupakan salah satu gunung tertinggi di Jawa Barat. Gunung tersebut memiliki kawah ganda, yakni Kawah barat yang beradius 400 m dan Kawah Timur yang beradius 600 m. PadaPada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet. Saat ini Gunung Ceremai termasuk kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), dengan luas total sekitar 15.000 hektare.
Gunung Ciremai ini menjadi salah satu gunung yang menjadi tujuan favorit para pendaki. Biasanya jumlah pendaki meningkat pada musim liburan dan dalam dua momen yakni Agustusan dan tahun baru.
Gunung Ciremai menyimpan banyak potensi sumber daya alam. Tak hanya itu, gunung dengan posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53′ 30″ LS dan 108° 24′ 00″ BT, dengan ketinggian 3.078 m di atas permukaan laut. Dalam mendaki gunung ini, para pendaki dituntut harus bekerja ekstra keras untuk bisa sampai ke puncak. Hal tersebut tentunya menguras banyak tenaga. Sehingga tak jarang para pendaki mendapati pikirannya kosong akibat kelelahan yang membawa mereka pada halusinasi. Kondisi tersebut sering kali dikaitkan dengan berbagai cerita mistis yang menyelimuti Gunung Ciremai.
Para pendaki Gunung Ciremai sering juga diperdengarkan suara gamelan yang melantun halus ditengah perjalanan mereka. Tidak jelas siapa yang memainkan alat musik tradisional Jawa tersebut, namun konon jika mendengar gamelan tersebut, para pendaki harus tetap pada jalur pendakian dan saling berpegangan dengan teman pendakian.
Para pendaki senior percaya jika suara gamelan tersebut adalah ulah dari mahluk halus yang tinggal di Gunung Ciremai, yang ingin mengecoh para pendaki agar tersesat, dan keluar dari jalur pendakiannya. Oleh karena itu, jika terdengar suara gamelan, segera berpegangan dan tetap pada jalur yang sudah ditentukan.
Jalak hitam yang sering terlihat berada di pos VI seakan menjemput para pendaki untuk melanjutkan perjalanannya, dan tawon hitam yang akan mengganggu perjalanan tersebut. Dua sosok binatang ini kerap datang dan menemani para pendaki yang tengah dalam perjalanannya untuk puncak Gunung Ciremai.
Para pendaki percaya bahwa pada dasarnya, saat mendaki gunung, para pendaki diharapkan untuk tidak iseng mengganggu binatang yang ada di jalur pendakian. Oleh karena itu, misteri jalak hitam dan tawon hitam ini juga masih meninggalkan pertanyaan besar.
Tanjakan Bapa Tere adalah trek pendakian yang dapat membuat pendaki merangkak seperti Komodo. Tanjakan ini memang terkenal di kalangan para pendaki, khususnya pendaki gunung-gunung di Jawa Barat seperti Gunung Ciremai ini. Ada dua alasan mengapa tanjakan ini diberi nama Bapa Tere. Alasan pertama adalah karena tracknya yang cukup menantang, tanjakan ini seperti seorang Bapak Tiri yang tengah menyiksa anaknya. Lalu, alasan kedua adalah cerita simpang siur yang juga banyak diyakini oleh para pendaki.
Dahulu, konon ada seorang Bapak Tiri yang mengajak anaknya untuk mendaki Gunung Ciremai. Namun, bukan petualangan yang didapatkan oleh anak tersebut, melainkan nyawanya yang melayang karena dibunuh oleh Bapak Tirinya di tanjakan ini.
Meskipun mempunyai cerita tersebut, tanjakan ini memang penuh tantangan dan butuh tenaga ekstra untuk melampaui dan menaklukannya.
Sebelum berangkat berpetualang ke Gunung Ciremai, banyak para pendaki yang melakukan ritual injak bumi 3x dan memberikan salam. Hal ini dipercaya sebagai ritual agar tidak diganggu mahluk halus saat mulai perjalanan mendaki Gunung Ciremai.
Setidaknya ada tiga pantangan yang tidak boleh dilakukan oleh para pendaki saat mendaki Gunung Ciremai. Yang pertama adalah mengeluh. Konon katanya, Gunung Ciremai dapat mendengar keluhan para pendaki dan malah menjadikan hal tersebut hal yang paling sering ditemukan oleh para pendaki.
Kedua adalah buang air kecil dan buang air besar sembarangan. Itu mengapa, dulu sebelum gencar gerakan zero waste (bebas sampah), di beberapa jalur pendakian Gunung Ciremai sering ditemukan plastik-plastik berisi air kekuningan yang tergantung di ranting-ranting pohon. Ketiga, adalah selalu mengucapkan salam tiap bertemu pos istirahat selama perjalanan.
Konon, Gunung Ceremai dipercaya sebagai singgasana kerajaan Nini Pelet. Menurut Masruri dalam bukunya berjudul: Rahasia Pelet, Nini Pelet ini merupakan tokoh yang memiliki kesaktian hebat, khususnya di bidang percintaan. Dia adalah tokoh yang merebut kitab “Mantra Asmara” ciptaan tokoh sakti bernama Ki Buyut Mangun Tapa.

Salah satu isi dari ajian dalam kitab tersebut adalah ilmu “Jaran Goyang” yang dikenal ampuh mengikat hati lawan jenis. Uniknya, ilmu itu sampai kini masih dipelajari oleh kebanyakan orang, terutama para paranormal.
Salah satu mitos yang berkembang soal Gunung Ceremai adalah larangan membuang air seni ke tanah. Biasanya pantangan itu diberitahu oleh kuncen Ceremai kepada para pendaki gunung tertinggi di Jawa Barat itu.

Konon, jika tak dituruti akan mendapat bala. Karenanya, tak jarang banyak dahan dan ranting pohon di jalur pendakian Gunung Ceremai digantungi plastik atau botol plastik yang berisi air seni.

Namun demikian, banyak juga orang yang tak percaya dan tetap buang air seni seperti biasa. Hal itu kembali ke diri masing-masing apakah mau percaya atau tidak.
Di Gunung Ceremai terdapat sejumlah pos atau blok yang dipercaya memiliki aura mistis. Salah satunya adalah blok Batu Lingga. Konon katanya dahulu dipakai oleh bertapa oleh para orang-orang hebat. Orang-orang hebat pada saat itu adalah kakek dari Kanjeng Sunan Gunung Jati, dan sampai Kanjeng Sunannya sendiri, ikut bertapa di atas batu tersebut.
Sosok kakek dengan jubah putih seringkali terlihat disekitaran Batu Lingga tersebut. Bahkan, sosok tersebut sering juga menampakan dirinya saat ada pendaki yang melintasi jalur pendakian tersebut. Dari cerita di atas, kakek dengan jubah putih tersebut, diyakini adalah Kanjeng Sunan Gunung Jati dan orang-orang hebat lainnya.
Sampai saat ini, belum ada yang bisa menjelaskan, kemunculan sosok tersebut dengan hubungannya para pendaki. Yang jelas, para pendaki disarankan untuk tidak mengganggu tempat tersebut, atau bahkan merusaknya.

Penduduk setempat bahkan sangat mensakralkan tempat itu. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, para pendaki bahkan dilarang menduduki sebuah batu besar atau berbuat yang tak senonoh di tempat itu.

Konon batu-batu di lokasi itu menjadi tempat pertapaan Nini Pelet. Batu itu juga kabarnya pernah menjadi lokasi khotbah salah seorang wali songo.

Di dekat Batu Lingga juga terdapat sebuah kenangan seorang pendaki yang meninggal. Kabarnya pendaki itu meninggal dengan aneh di Batu Lingga. Menurut kepercayaan, blok Batu Lingga dijaga oleh dua makhluk halus bernama Aki dan Nini Serentet Buntet.
Konon kabarnya Gunung Ceremai menjadi sarang harimau bermata satu. Menurut legenda, makhluk itu merupakan tunggangan sekaligus sekutu dari Nini Pelet.Harimau bermata satu itu tinggal di antara rimbun ranting kering yang menyerupai goa di gunung itu.
Mitos Nyi Linggi dengan 2 macan tutul memang sudah sering terdengar dari mulut para pendaki yang habis mendaki Gunung Ciremai. Masih berkaitan dengan Batu Lingga, usut punya usut ternyata Nyi Linggi adalah orang yang meneruskan pertapaan di Batu Lingga tersebut.
Entah dengan maksud apa saat itu, Nyi Linggi yang belum genap menyelesaikan pertapaannya, sudah meninggal di atas Batu Lingga tersebut. Konon katanya, dahulu masyarakat setempat menemukan jasad Nyi Linggi sudah tidak bernyawa di atas batu tersebut.
Tentang dua macan tutul yang menemaninya? Hal tersebut yang sampai sekarang tidak terjawab, karena tidak ada yang tahu pasti ke mana binatang kesayangan dari Nyi Linggi itu pergi. Sekarang, para pendaki kerap diperlihatkan seorang nenek yang duduk di atas batu lingga tersebut dengan ditemani dua macan tutul yang besar.

 


Help US With Share