Burung Katak, Burung Yang Dapat Berkamuflase

Help US With Share

Di Indonesia diketahui hanya ada dua suku burung yang memiliki sifat pemakan serangga sekaligus nokturnal, yaitu: Burung Cabak (Caprimulgidae) dan Burung Paruh Katak (Frogmouth).

Setiap makhluk hidup tidak pernah bisa memilih mau diciptakan menjadi seperti apa. Termasuk hewan seperti burung, mereka juga hadir ke dunia ini dengan berbagai rupa dan bentuk. Saking beragamnya, beberapa di antara mereka sampai ada yang memiliki penampilan sangat unik dan aneh.

Kamuflase adalah suatu metode yang memungkinkan sebuah organisme atau benda yang biasanya mudah terlihat menjadi tersamar atau sulit dibedakan dari lingkungan sekitarnya. Hewan kebanyakan berkamuflase untuk bertahan hidup dengan cara mengalihkan pandangan predator yang hendak memangsanya. Kamuflase pada hewan sering terjadi pada hewan yang mempunyai sel kulit tertentu misalnya bunglon dengan cara mengubah warnanya.

Burung Paruh Katak (Frogmouth) memiliki hubungan dekat dengan burung cabak, oleh karena itu disebut juga dengan cabak. Berbeda dengan burung cabak, burung paruh katak lebih suka berada di dalam hutan ketimbang menangkap serangga di daerah terbuka. Dinamakan paruh katak karena memiliki paruh yang sangat lebar. Paruh ini digunakan untuk menangkap serangga yang ada di lantai hutan. Serangga-seranggga kecil yang banyak terdapat di hutan biasanya menjadi sasaran empuk si paruh katak ini.

Jika dilihat secara sepintas burung ini mirip seperti burung hantu pada umumnya. Namun jika diperhatikan lagi pada bagian bulunya, burung ini memiliki corak yang unik yaitu berupa bintik-bintik putih di seluruh tubuhnya. Saat ini, burung paruh katak sudah sangat sulit untuk ditemukan di alam liar.

Paruh katak adalah sekumpulan burung nokturnal yang berhubungan dengan cabak. Mereka ditemukan dari Subkontinen India menuju Asia Tenggara hingga Australia. Burung paruh katak termasuk burung yang unik. Pasalnya jika burung pemakan serangga berburu siang hari beda dengan burung ini. Saat bayi dan dewasa, burung paruh kodok memilik bentuk yang sangat berbeda. Bentuk bulat berbulu saat bayi berubah jadi bak burung hantu dengan badan yang menyerupai batang dan daun kering.

Burung ini memiliki panjang 35-53 cm. burung ini mencari makanan di malam hari, namun berbeda dengan burung hantu yang memburu makanannya, burung ini justru bertengger diam dan menunggu mangsannya dengan penyamaran yang baik karena memiliki bulu yang amat mirip dengan pohon tempat ia bertangger. Burung ini menghabiskan waktu siang mereka pada tunggul kayu mati atau ranting pohon dan memburu mencari makan pada waktu malam.

Cara penyamaran yang biasa dilakukan adalah dengan cara duduk diam tidak bergerak dan kelihatan sangat serupa dengan kulit pohon.Maka sangat sulit untuk membedakan burung dengan kulit pohon, mata mereka tertutup dan paruhnya yang tegak lurus.

Adapun strategi lainnya adalah dengan membuka mulutnya dan membiarkan serangga yang mendatangi burung ini. Biasanya, kita bisa menemukan burung ini dengan mudah di Australia. Mereka biasa hidup di pohon-pohon lokal. Burung ini dapat berkamuflase seperti bunglon hanya untuk melindungi dirinya dari serangan musuh hewan lainnya.

Di Thailand dan Malaysia, burung ini masuk kategori langka. Di Indonesia, burung tersebut merupakan spesies yang dilindungi di Taman Nasional Way Kambas, Sumatera. Perlindungan burung paruh kodok ini juga dilakukan di Taman Negara Malaysia dan Taman Nasional Gunung Mulu serta Area Konservasi Lembah Danum.

“Ini adalah spesies yang sulit dipahami dan kurang dikenal,” ujar IUCN.

Ancaman terbesar bagi burung ini adalah penebangan dan penggundulan hutan. Sebagian deforestasi disebabkan oleh kebakaran hutan, tetapi sebagian besar hilangnya lahan disebabkan oleh manusia merambah habitatnya. Burung mulut kodok juga dikategorikan sebagai Hampir Punah di daftar merah IUCN.

 


Help US With Share