Kisah Misteri Bekas Rumah Sakit Kadipolo Solo

Help US With Share

Kota Surakarta atau sering juga disebut Solo, adalah wilayah otonom dengan status Kota di bawah Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kota ini juga merupakan kota terbesar ketiga di pulau Jawa bagian Selatan setelah Bandung dan Malang menurut jumlah penduduk. Sisi Timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo.

Surakarta juga dikenal sebagai daerah tujuan wisata yang biasa didatangi oleh wisatawan dari kota-kota besar. Biasanya wisatawan yang berlibur ke Yogyakarta juga akan singgah di Surakarta, atau sebaliknya. Tujuan wisata utama kota Surakarta adalah Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, dan kampung-kampung batik serta pasar-pasar tradisionalnya. Wisata sejarah bekas pabrik gula bernama De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar.

Solo atau Surakarta kini menjadi slah satu kota yang wajib dikunjungi oleh wisatawan. Kota Solo merupakan kota tua yang banyak memiliki bangunan-bangunan kuno bernilai sejarah. Namun sangat disayangkan, ada banyak bangunan yang tidak terawat.

Selain memiliki banyak daerah wisata yang bersejarah, Kota Solo juga memiliki banyak kisah mistis, salah satunya adalah Rumah sakit Kadipolo. Rumah Sakit Kadipolo terletak di Kelurahan Panularan, Laweyan, Solo. Bangunan ini memang menjadi salah satu bangunan bersejarah yang terdapat di Kota Bengawan.

Awal mulanya, ini adalah bangunan Rumah Sakit (RS) yang ada di Kadipolo, Solo. Rumah Sakit Kadipolo terletak di jalan Dr. Radjiman dengan luas lahan sekitar 2,5 Ha dan dibangun sekitar tahun 1915 oleh Raja Keraton Kasunanan Surakarta Paku Buwono (PB) X. Fasilitas kesehatan yang sebelumnya diberi nama Panti Rogo itu berperan dalam penanganan wabah Pes yang sudah masuk kota bengawan.

Waktu itu yang memimpin Panti Rogo adalah Dr.Radjiman Wedyodiningrat. Dari sinilah nama beliau digunakan untuk nama jalan di depan RS Kadipolo. Panti Rogo dibangun dengan kualitas yang sangat mumpuni pada era itu. Dilengkapi dengan bangsal dan paviliun dengan fasilitas modern, rumah sakit ini melengkapi keberadaan dua rumah sakit besar lainnya yakni Zending Hospital dan Ziekenzorg Hospital.

Seiring berjalannya waktu, Panti Rogo berganti nama menjadi RS Kadipolo. Sekitar akhir tahun 1970, RS Kadipolo tidak difungsikan sebagai fasilitas kesehatan karena semua peralatan dan perlengkapan medis dipindahkan ke RS Mangkubumen.

Pada era 1980-an, bangunan itu menarik perhatian warga Solo karena digunakan sebagai basecamp klub sepakbola ternama, yakni Arseto Solo. Banyak cerita mistis di kisahkan di tempat tersebut yang bikin merinding, hingga akhirnya tempat itu tidak lagi di jadikan mess oleh Tim Arseto.

Arseto merupakan klub yang didirikan putra Presiden Kedua Republik Indonesia, Soeharto, Sigit Harjojudanto di Jakarta pada tahun 1978. Lima tahun berselang atau tepatnya tahun 1983, Arseto menjadikan Stadion Sriwedari Solo sebagai markas mereka.

Arseto adalah klub besar kompetisi Galatama. Arseto pernah menjadi juara Galatama pada musim 1990-1992. Kejayaan Arseto terus menggelora hingga luar negeri. Arseto pernah menjadi juara Kejuaraan Antarklub ASEAN pada tahun 1993, dan melaju ke babak 7 besar Liga Champions Asia di tahun yang sama.

Beberapa warga sekitar bahkan pemain Arseto yang tinggal disana seringkali melihat penampakan makhluk gaib. Mulai dari perempuan dengan baju putih, bahkan penampakan di lapangan angker yang dulunya digunakan sebagai tempat latihan.

Pernah ada cerita pemain yang kesurupan dan penampakan kambing berwarna hitam yang tiba-tiba muncul. Salah seorang warga Panularan, Anggoro mengatakan pada saat Arseto mulai berada di komplek Kadipolo, ada sebuah kepercayaan yang kerap dibuktikan kebenarannya. Bila ingin dilempar kerikil oleh mahkluk tak kasat mata, para pemain biasanya melempar sebuah tiang listrik dengan batu atau memukulnya hingga terdengar suara keras.

Kini yang tersisa dari rumah sakit tersebut hanyalah sebagian bangunan yang masih kokoh berdiri, seperti misalnya tembok,bagian bangsal dan kamar jenazah. Bekas rumah sakit Kadipolo di Solo kini menjadi salah satu saksi bisu kejayaan klub sepak bola Arseto Solo.


Help US With Share