Pesugihan Sate Burung Gagak

Help US With Share

Pesugihan merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kekayaan secara instan dengan bantuan makhluk gaib dan ilmu hitam. Biasanya para pelaku ritual pesugihan tersebut melakujan karena ada kebutuhan dana yang banyak dan mendesak. Entah untuk membayar hutang, biaya berobat, atau bahkan untuk memenuhi nafau duniawi semata. Tentu saja, berurusan dengan makhluk gaib dan ilmu hitam seperti pesugihan ada tumbal yang harus dibayarkan. Ada banyak cara pesugihan yang bisa dipilih bagi para pelaku ritual pesugihan, misalnya memelihara tuyul. Dalam kesempatan ini, Penulis akan membahas tentang pesugihan burung gagak.

Pesugihan burung gagak, merupakan pesugihan dengan cara menjual sate yang berasal dari daging burung gagak. Terlihat mudah, karena para pelaku ritual tersebut hanya perlu menjual sate yang menggunakan daging burung gagak. Tapi, jangan salah, terlihat mudah, tapi tidak semudah yang di bayangkan.

Dalam melakukan ritual ini, para pelaku hanya perlu menyiapkan burung gagak hidup, gerobak sate seperti umumnya, dan mental yang kuat. Mental yang kuat karena para pembeli yang akan membeli sate dagangan para pelaku bukan manusia biasa, melainkan makhluk astral yang beraneka ragam. Misalnya genderuwo, pocong, kuntilanak, dan sebagainya.

Dalam prakteknya, para pelaku ritual menusuk daging burung gagak yang sudah potong pada tusukan sate. Tapi darahnya tidak boleh dibuang. Darah burung gagak tersebut ditampung dalam satu wadah sendiri, karena darah burung gagak tersebut nantinya akan digunakan sebagai bumbu sate tersebut. Tidak seperti bumbu kacang seperti sate ayam umumnya

Selanjutnya dalam berjualan, tidak bisa para pelaku berdagang di tempat yang ramai. Para pelaku disarankan berdagang di tempat sepi yang memiliki energi astral kuat, misalnya kuburan atau tengah hutan dan dilakukan pada tengah malam. Selain itu, para pelaku dalam berdagang tidak diperkenankan membaca doa-doa dan tidak diperkenankan menggunakan pakaian. Dalam artian telanjang bulat tanpa benang sehelai pun yang menutupi tubuh.

Ketika dagangan sudah siap, saatnya mental para pelaku diuji. Satu persatu makhluk astral akan datang, dengan tampang yang seadanya, tidak tampan atau cantik. Melainkan seram, cacat, hancur, layaknya setan dalam film-film. Ditambah dengan aroma darah yang anyir, amis, serta bau khas dari para makhluk astral. Takut itu hal wajar, tapi tidak diperbolehkan membaca doa-doa menurut keyakinan agama. Ketika berdoa, makhluk astral yang hendak beli, akan pergi dan tidak jadi beli sate tersebut.

Setelah para setan tersebut beli, saatnya pesugihan tersebut dimulai. Para pelaku bisa mengatakan harga berapapun untuk sate yang dijual. Mau dikasih harga 10 juta per tusuk pun, tidak ada masalah. Harga yang diucapkan para pelaku ritual, akan dibayar oleh para makhluk yang beli. Uang yang dibayarkan pun juga asli, dan dapat digunakan seperti uang pada umumnya. Bahkan jika mau kasih harga 100 juta per tusuk pun akan dibayar. Terlihat mudah dan enak dalam ritual tersebut. Biasanya para pelaku ritual tersebut akan berdagang hingga terasa cukup banyak harta yang terkumpul. Mau dibelikan rumah, mobil, emas, deposito, membayar hutang silahkan saja.

Berbicara masalah tumbal, seperti Penulis tuliskan tadi di atas, tidak ada hal yang berurusan dengan makhluk gaib atau ilmu hitam yang tidak memakai tumbal. Tumbalnya jatuh pada sepanjang hidup kita.

Para pelaku yang berhenti jualan sate burung gagak, dalam tidurnya akan dihampiri oleh para makhluk astral yang pernah beli dagangannya. Makhluk tersebut tidak melukai, hanya menghantui serta membayangi hidup para pelaku. Para makhluk astralĀ  tersebut akan minta kepada para pelaku ritual untuk berdagang jika mereka berhenti berdagang. Tumbal dalam ritual tersebut adalah para pelaku diharuskan berdagang sate gagak tersebut hingga ajal tiba, atau akan dihantui dalam mimpi tidurnya. Tidak lepas kemungkinan akan ditemui secara langsung ketika para pelaku kondisi bangun dan sendiri.

Menurut pengakuan dari beberapa pelaku ritual pesugihan sate gagak, uang yang didapat dalam jualan sate burung gagak, jumlahnya sangat menggiurkan. Dalam berdagang satu malam, pelaku ritual mengaku dapat membeli rumah dari hasil berdagang sate burung gagak. Untuk menguji keaslian dari uang tersebut, pelaku ritual mencoba untuk menyetorkan uang tersebut di bank, dan ternyata asli. Maka langsung tambah semangat mereka berdagang.

Pelaku ritual tersebut mengaku, sesungguhnya mereka merasa jijik atau risih ketika harus berhadapan dengan para pembeli yang bentuknya rupa-rupa. Ada yang mukanya hancur berantakan seperti korban kecelakaan. Ada pula yang baunya sangat amis seperti darah segar. Makhluk yang seram seperti tinggi besar dengan mata merah serta taring yang besar dan tajam pun harus mereka temui.

Seandainya saja mereka para pelaku ritual bisa memilih pembeli yang datang, mereka tidak ingin bertemu makhluk astral yang mengerikan atau seram. Tapi sayangnya mereka tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau mereka harus melayani pesanan dari makhluk-makhluk astral demi uang yang banyak.

Karena sudah dirasa memiliki harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan hingga anak cucunya nanti, salah satu para pelaku ritual tersebut memutuskan berhenti jualan sate burung gagak. Dengan pemikiran sudah enggan untuk bertemu dengan para makhluk astral yang mengerikan dan menjijikkan.

Namun, siapa sangka itu hanya angan-angan belaka. Salah satu pelaku ritual tersebut bercerita, pernah saat dia sendiri, melamun memikirkan keluarganya, dia didatangi salah satu pembeli satenya saat masih berjualan. Makhluk astral tersebut datang untuk meminta sate burung gagak yang pernah dibelinya. Karena merasa jenuh diteror terus menerus oleh para makhluk astral, akhirnya dengan terpaksa dia berjualan sate burung gagak lagi.

Pesugihan memang enak dan menggiurkan, tapi siapkah para Pembaca dengan segala resiko yang harus dihadapi? Sesungguhnya rejeki yang halal yang berasal dari keringat kita sendiri, itu jauh lebih nikmat dari pada rejeki yang datang dengan bantuan makhluk astral dan ilmu hitam. Syukuri segala sesuatu yang dipunya, dan minta kepada Sang Pencipta jika memang kita membutuhkan sesuatu.


Help US With Share