Misteri Lubang Hitam

Help US With Share

Dalam sains, jika kita membaca atau menonton tayangan tentang alam semesta, lubang hitam atau black hole merupakan salah satu pembahasan yang menarik. Keberadaannya memang nyata, namun hingga saat ini ilmuwan dan astronaut tidak pernah betul-betul tahu tentang apa yang ada di dalamnya. Bahkan, posisi dan letak dari lubang hitam tersebut sangat jauh dari Bumi dan hanya bisa dipelajari melalui pengamatan.

Membicarakan lubang hitam, tentu tidak bisa lepas dari gaya tarik atau gravitasi. Menurut NASA, lubang hitam bisa diartikan zona di alam semesta yang memiliki kekuatan gravitasi sangat besar sehingga cahaya pun bisa terperangkap di dalamnya. Sebuah lubang hitam bisa memiliki kekuatan gravitasi yang begitu masif mungkin disebabkan oleh massa besar yang terdesak dan terjepit di sebuah tempat yang sangat kecil.

Pemampatan gravitasi ini yang menyebabkan kemunculan lubang hitam di alam semesta. Sejatinya, lubang hitam yang memiliki kekuatan gravitasi luar biasa besar sebetulnya tidak bisa dilihat oleh manusia begitu saja. Kita membutuhkan peralatan khusus untuk mendeteksi keberadaan mereka di alam semesta.

Alat dan teleskop khusus tersebut akan melihat jalur dan kondisi bintang di sekitar lubang hitam yang memiliki pola pergerakan berbeda dibanding bintang lainnya. Itu sebabnya objek misterius tersebut dinamakan lubang hitam atau black hole, karena memang tidak bisa dilihat begitu saja. Mereka cenderung gelap dan tidak tampak seperti objek lainnya, karena cahaya yang tidak dapat keluar dari lubang hitam tersebut.

Konsep dan teori mengenai lubang hitam bukanlah hal yang baru di dunia sains. Science Focus melansir bahwa pandangan mengenai lubang hitam sudah pernah digagas oleh John Michell pada 1783. Saat itu Michell mengungkapkan, bahwa sebuah zona dengan gravitasi kuat di alam semesta bisa saja ada akibat pengerucutan massa. Tentu saja Michell juga menyandarkan hipotesisnya pada hukum gravitasi yang digagas oleh Newton.

Di era Albert Einstein, keberadaan lubang hitam bisa diprediksi dengan penghitungan rumit relativitas. Rasa penasaran ilmuwan terhadap lubang hitam membuktikan, bahwa keberadaan zona dengan gaya gravitasi masif ini masih terus diburu dari zaman ke zaman. Gagasan Michell yang eksis sejak abad ke-18 dijadikan rujukan, karena ada begitu banyak bukti mengarah ke lubang hitam.

Salah satunya adalah penemuan lubang hitam bernama Cygnus X-1 yang dilakukan oleh ilmuwan asal Inggris bernama Louise Webster dan Paul Murdin. Objek angkasa tersebut ditemukan di awal 1970 dan berjarak sekitar 6 ribu tahun cahaya dari tata surya kita. Akhirnya, Cygnus X-1 dikonfirmasi sebagai lubang hitam pertama yang teridentifikasi melalui teleskop khusus.

Jika pernah menonton film Interstellar, film tersebut telah dinobatkan sebagai film dengan narasi sains yang paling mendekati kenyataan. Salah satu adegan yang membuat bingung, yaitu saat protagonis utama memasuki lubang hitam. Walau belum ada m manusia yang pernah melakukannya, ilmuwan dapat berandai-andai mengenai hal tersebut.

Dimensi ruang yang kita kenal adalah 3D atau tiga dimensi. Lalu, ada dimensi ke-4 bernama waktu. Gagasan ekstrem mengarah bahwa keberadaan dimensi ke-5 bisa dibuktikan jika ruang, waktu, dan gravitasi bergabung sehingga membentuk mekanisme yang dinamakan multiple timeline. Hal ini diartikan keberadaan ruang waktu lebih dari satu, dan terjadi secara bersamaan.

Prinsip multiple timeline ini diprediksi hanya bisa terjadi di dalam lubang hitam, karena ia merupakan satu-satunya objek yang memiliki gaya gravitasi terbesar di alam semesta. Tentu saja ini semua masih prediksi dan gagasan hipotesis, sebab ilmuwan tidak akan memberikan jawaban seadanya tentang lubang hitam.

Gagasan yang menyatakan bahwa lubang hitam merupakan portal ke alam semesta lain sebetulnya bukanlah hipotesis baru. Berdasarkan gagasan yang diungkap oleh beberapa ilmuwan, alam semesta kita bukanlah alam semesta tunggal. Masih ada yang lainnya, dan mungkin jumlahnya nyaris tanpa batas. Jejak purba akan hal tersebut sudah bisa dideteksi melalui keberadaan gelombang mikro kosmik (CMB), sebuah radiasi yang merupakan sisa-sisa dari kelahiran alam semesta atau Big Bang.

Pendapat ini diutarakan oleh ahli fisika dan matematika dari Universitas Oxford, Profesor Roger Penrose, seorang ilmuwan yang juga mendapatkan hadiah Nobel di bidang fisika pada 2020. Menurutnya, kelahiran alam semesta ini terjadi secara berulang kali layaknya makhluk hidup yang lahir dan mati.

Mengungkap misteri lubang hitam akan menjawab begitu banyak pertanyaan dalam sains. Hal tersebutlah yang membuat ilmuwan sekelas Stephen Hawking, juga terobsesi dengan keberadaan lubang hitam. Dalam teori kedua mekanika lubang hitam, dijelaskan bahwa cakrawala total yang ada di sekitar lubang hitam tidak dapat berkurang secara masif dari waktu ke waktu.

Namun, pergerakan dan sistem kerja objek di sekitar lubang hitam tersebut juga masih terus diteliti. Pembuktian yang bisa dilakukan masih terbatas pada riset, studi, dan gagasan ilmiah yang didapat dari pengamatan lubang hitam melalui teleskop khusus. Untuk saat ini, sangat mustahil bagi manusia untuk mengunjungi objek tersebut.

Mungkin lubang hitam juga dapat mengungkap keberadaan dari dimensi yang jauh lebih tinggi daripada dimensi manusia, misalnya dimensi ke-5. Namun, semua gagasan mengenai lubang hitam masih sebatas teori, hipotesis, dan kalkulasi sains yang dilakukan oleh ilmuwan. Tidak ada yang tahu persis, apa yang ada di dalamnya.


Help US With Share