5 Pemanis Alternatif untuk Mengurangi Konsumsi Gula Selain Stevia
Percayagapercaya — Pemanis pengganti gula menjadi salah satu pilihan bagi penderita diabetes maupun orang yang sedang berusaha mengontrol berat badan. Namun, masyarakat perlu memperhatikan jenis produk yang dikonsumsi karena tidak semua pemanis yang beredar di pasaran berasal dari bahan alami.
Penggunaan pemanis buatan atau sintetis secara berlebihan disebut berisiko menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Risiko tersebut antara lain kelebihan berat badan, hipertensi, hingga penyakit jantung.
Karena itu, sebagian orang mulai mempertimbangkan pemanis yang berasal dari buah-buahan, tanaman, maupun madu. Meski demikian, bahan alami juga tetap perlu dikonsumsi dengan takaran yang sesuai.
Belakangan, perhatian masyarakat tertuju pada dugaan peredaran produk pemanis stevia tetes yang mengandung bahan tambahan pangan (BTP). Padahal, kandungan tersebut dinilai tidak semestinya terdapat dalam pemanis alami. Di tengah kekhawatiran tersebut, ada sejumlah alternatif selain stevia yang bisa dikenal sebagai pilihan pengganti gula.
1. Madu

Madu merupakan salah satu bahan alami yang sering digunakan untuk menggantikan gula pasir. Kandungan polifenol di dalamnya berperan dalam menjaga kesehatan jantung, membantu mengendalikan gula darah, serta menekan risiko kanker.
Walaupun memiliki sejumlah kandungan yang bermanfaat, madu tetap mengandung kalori. Dalam setiap satu sendok makan madu terdapat sekitar 21 kalori. Oleh sebab itu, penggunaannya tetap perlu dibatasi, terutama bagi orang yang sedang mengatur asupan gula dan kalori.
2. Kurma

Kurma juga bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pemanis alami. Buah ini memiliki rasa manis khas serta mengandung berbagai nutrisi, seperti serat, vitamin B6, kalium, dan magnesium.
Selain itu, kurma mengandung senyawa antioksidan berupa karotenoid dan polifenol. Setiap buah kurma memiliki sekitar 23 kalori.
Gula alami dalam kurma disebut tidak langsung mengganggu kestabilan gula darah. Buah ini juga dapat digunakan sebagai pemanis dalam berbagai olahan makanan dan minuman, termasuk kue kering serta jus buah.
3. Xylitol

Xylitol menjadi pilihan pemanis rendah kalori yang dapat diperoleh dari sejumlah sumber alami, seperti stroberi, rasberi, dan kembang kol.
Pemanis ini memiliki kandungan sekitar 2,4 kalori per gram. Xylitol juga disebut tidak memengaruhi fungsi hormon insulin dan kadar gula darah. Selain itu, kandungannya dapat membantu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab kerusakan gigi.
Namun, konsumsi xylitol secara berlebihan perlu dihindari. Asupan yang terlalu banyak dapat menimbulkan gangguan pencernaan, seperti perut kembung dan diare.
4. Lo Han Kuo atau Monk Fruit
Lo han kuo, yang juga dikenal sebagai monk fruit, merupakan buah yang berasal dari Tiongkok Selatan. Ekstrak buah ini memiliki tingkat kemanisan sekitar 150 hingga 200 kali lebih tinggi dibandingkan gula biasa.
Keunggulan lainnya, ekstrak lo han kuo disebut tidak mengandung kalori maupun karbohidrat. Pemanis ini juga dinilai dapat membantu mengendalikan gula darah.
Meski begitu, konsumen perlu memperhatikan komposisi produk olahan monk fruit. Periksa label kemasan untuk memastikan tidak terdapat tambahan gula sintetis dalam produk yang dibeli.
5. Allulose
Allulose merupakan jenis gula yang ditemukan secara alami dalam beberapa makanan, termasuk buah tin dan kismis. Tingkat kemanisannya mencapai sekitar 70 persen dari gula pasir, tetapi kandungan kalorinya jauh lebih rendah, yakni sekitar 0,2 kalori per gram.
Karakteristik tersebut membuat allulose menjadi salah satu alternatif pemanis yang dapat dipertimbangkan oleh penderita diabetes maupun orang yang sedang menjalani program penurunan berat badan.
Walaupun demikian, konsumsinya tetap perlu diperhatikan. Asupan allulose dalam jumlah berlebihan berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan ringan, seperti sakit perut.
Tetap Batasi Konsumsi Pemanis Alami
Menggunakan pemanis yang berasal dari bahan alami bukan berarti seseorang bisa mengonsumsinya tanpa batas. Beberapa jenis pemanis tetap memiliki kandungan gula dan kalori yang perlu diperhitungkan dalam pola makan sehari-hari.
Jika dikonsumsi secara berlebihan dan tidak terkontrol, asupan pemanis justru dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, hingga gangguan fungsi jantung.
Karena itu, penting untuk memperhatikan takaran konsumsi dan membaca komposisi pada label produk. Pemilihan pemanis sebaiknya juga disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing, bukan hanya berdasarkan klaim alami atau rendah kalori.
