Tren Viral Makan Mentega, Kenali Dampaknya bagi Tubuh!

Help US With Share

Percayagakpercaya — Konten makanan yang tidak biasa kerap mencuri perhatian di media sosial. Salah satunya tren menyantap mentega dalam jumlah besar, baik tanpa campuran maupun bersama aneka topping seperti cokelat dan saus pasta.

Mentega yang biasanya hanya digunakan untuk memasak atau melengkapi hidangan kini justru menjadi menu utama dalam sejumlah video kuliner. Meski terlihat menarik, kebiasaan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap kesehatan jika dilakukan secara berlebihan.

Pasalnya, mentega mengandung lemak dalam konsentrasi tinggi. Mengonsumsinya sesekali sebagai bagian dari makanan tentu berbeda dengan menjadikannya santapan utama dalam jumlah besar.

Salah satu hal yang kerap luput ketika mengikuti tren makanan adalah memperhatikan kandungan gizi di balik tampilannya. Padahal, jumlah dan jenis lemak yang masuk ke tubuh ikut menentukan kualitas pola makan sehari-hari.

Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Sri Anna Marliyati, mengingatkan bahwa masyarakat perlu memahami risiko makanan sebelum mengikuti tren yang sedang populer.

Setiap gram lemak menyumbang sekitar 9 kilokalori. Dengan demikian, semakin banyak mentega yang dikonsumsi, semakin besar pula tambahan energi yang masuk ke tubuh.

Jenis lemaknya juga patut menjadi pertimbangan. Mentega umumnya mengandung lebih banyak lemak jenuh, sedangkan margarin berbahan minyak nabati dapat memiliki kandungan lemak tak jenuh lebih tinggi, bergantung pada komposisi produknya.

Konsumsi lemak jenuh secara berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL pada sebagian orang. Jika berlangsung dalam jangka panjang, pola makan yang kurang seimbang bisa ikut meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang boleh makan mentega, melainkan berapa banyak yang dikonsumsi dan bagaimana komposisi makanannya secara keseluruhan.

Perut Bisa Bereaksi Ketika Terlalu Banyak Mengonsumsi Lemak

Dampak makan mentega dalam jumlah besar juga bisa dirasakan dalam waktu relatif singkat. Sebagian orang mungkin mengalami rasa penuh berlebihan, mual, atau perut terasa begah setelah mengonsumsi makanan yang sangat berlemak.

Hal ini berkaitan dengan proses pencernaan. Lemak dapat memperlambat pengosongan lambung sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama.

Kondisi tertentu juga membutuhkan perhatian khusus. Menurut Sri, konsumsi makanan berlemak dapat merangsang kontraksi kandung empedu. Pada orang yang memiliki batu empedu atau gangguan kandung empedu, proses tersebut berpotensi memicu rasa sakit atau ketidaknyamanan pada perut.

Selain itu, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak secara berulang dapat menyulitkan seseorang menjaga keseimbangan asupan energi, terutama jika makanan tersebut menambah kalori di luar kebutuhan hariannya.

Kandungan Vitamin Bukan Alasan untuk Makan Mentega Berlebihan

Mentega memang mengandung beberapa zat gizi, termasuk vitamin A dan B12, serta sejumlah kecil vitamin D dan E. Namun, kandungan tersebut tidak menjadikan mentega pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan vitamin harian.

Berbagai zat gizi serupa dapat diperoleh dari makanan lain yang memiliki komposisi nutrisi lebih beragam. Susu, telur, ikan, serta sayuran dapat menjadi bagian dari menu harian untuk membantu memenuhi kebutuhan tubuh.

Dengan kata lain, menambah porsi mentega secara drastis bukan cara yang tepat untuk meningkatkan asupan vitamin. Manfaat makanan tetap perlu dilihat bersama kandungan lemak, jumlah kalori, dan nutrisi lain yang menyertainya.

Orang dengan kondisi seperti gangguan lemak darah, penyakit jantung koroner, obesitas, diabetes yang disertai masalah lemak darah, perlemakan hati, atau riwayat batu empedu juga perlu lebih cermat menentukan asupan lemaknya.

Pilih Pola Makan Seimbang daripada Mengikuti Tren

Sri menyarankan masyarakat menerapkan prinsip gizi seimbang dengan memenuhi kebutuhan energi dan protein, memperbanyak sayur serta buah, serta membatasi gula, garam, dan lemak.

Secara umum, lemak dapat menyumbang sekitar 20–30 persen dari total kebutuhan energi harian. Namun, kebutuhan setiap orang dapat berbeda, dan sumber lemak tak jenuh sebaiknya lebih diutamakan.

Mentega maupun margarin tetap bisa digunakan dalam menu sehari-hari. Keduanya tidak perlu dihindari sepenuhnya, tetapi konsumsinya sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.

Pada akhirnya, makanan yang sedang viral belum tentu cocok dikonsumsi dalam porsi besar. Menikmati mentega sebagai pelengkap hidangan merupakan hal berbeda dengan menjadikannya makanan utama demi mengikuti tren.

Jadi, sebelum ikut mencoba tren makan mentega satu blok, pertimbangkan kembali manfaat dan risikonya. Tidak perlu FOMO hanya karena sebuah makanan sedang ramai di media sosial. Pola makan yang bervariasi dan seimbang tetap lebih penting daripada mengikuti tren sesaat.


Help US With Share