Mitos Larangan Malam Suro Di Solo Dan Jogja

Help US With Share

Pergantian tahun baru Jawa atau yang dikenal dengan Malam 1 Suro selalu diselimuti oleh atmosfer yang magis dan penuh kemistikan.

Bagi masyarakat di koridor dua poros budaya Jawa, yakni Solo dan Yogyakarta, Malam 1 Suro bukan sekadar pergantian kalender biasa. Malam ini dipercaya sebagai waktu di mana gerbang gaib terbuka lebar dan energi spiritual leluhur mencapai puncaknya.

Oleh karena itu, ada beberapa mitos keramat dan pantangan leluhur yang hingga kini masih dipegang teguh. Konon, siapa saja yang nekat melanggarnya bakal ketiban sial atau apes.

Berikut beberapa mitos keramat Malam 1 Suro di daerah Solo dan Jogja yang paling ditakuti masyarakat.

LARANGAN BERBICARA ATAU BERSUARA (TAPA BISU)

Mitos ini sangat kental dirasakan jika kita mengikuti atau menyaksikan prosesi Kirab Pusaka, baik di Keraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, maupun Kraton Yogyakarta.

Alasan ditakuti karena selama prosesi kirab berlangsung, para abdi dalem dan peserta kirab akan melakukan ritual Tapa Bisu (tidak berbicara sepatah kata pun). Mitosnya, penonton pun dilarang keras untuk bercanda, berbicara kasar, mengobrol, bahkan bersendawa keras. Melanggar kesakralan Tapa Bisu, dipercaya dapat mendatangkan petaka langsung berupa teguran gaib atau sakit mendadak.

LARANGAN BERBUAT ONAR

Malam 1 Suro identik dengan suasana yang tenang, khidmat, dan penuh perenungan. Karena itu, berbagai tindakan yang dapat mengganggu ketertiban seperti membuat keributan, mabuk-mabukan, atau memicu pertengkaran dianggap tidak sesuai dengan nilai yang dijunjung pada malam tersebut. Sebagian masyarakat percaya, bahwa orang yang berbuat onar pada malam 1 Suro dapat mengalami kesialan atau memperoleh dampak buruk dalam kehidupannya.

LARANGAN BEPERGIAN JAUH

Pantangan terakhir yang cukup dikenal adalah larangan melakukan perjalanan jauh pada malam 1 Suro. Bepergian jauh pada malam 1 Suro dipercaya dapat mendatangkan malapetaka atau kesialan, termasuk risiko mengalami kecelakaan dalam perjalanan. Oleh sebab itu, tidak sedikit orang yang memilih menunda perjalanan dan menghabiskan malam 1 Suro untuk beribadah serta melakukan refleksi diri.

LARANGAN KELUAR RUMAH (MATI ROGO)

Salah satu mitos paling populer yang ditakuti, yaitu larangan untuk bepergian atau keluar rumah pada tengah malam 1 Suro jika tidak ada urusan yang benar-benar mendesak.

Alasan ditakuti karena Masyarakat tradisional percaya bahwa pada malam tersebut, makhluk-makhluk gaib dan energi negatif sedang berkeliaran di luar. Melakukan perjalanan tidak tentu arah dianggap dapat membuat seseorang tersesat secara spiritual, rentan terkena sial, atau bahkan menjadi korban kesurupan. Leluhur lebih menyarankan untuk berdiam diri di rumah sembari berdoa atau tirakat.

LARANGAN MEMBANGUN ATAU PINDAH RUMAH

Tidak hanya menggelar pesta pernikahan, mitos keramat lain yang dihindari oleh masyarakat adalah memulai proyek pembangunan rumah baru atau melakukan pindah rumah saat Malam 1 Suro.

Alasan ditakuti karena berdasarkan perhitungan primbon Jawa kuno, mendirikan pondasi atau menempati rumah baru di waktu ini dipercaya bisa membawa energi panas dan ketidakharmonisan ke dalam bangunan tersebut. Rezeki pemilik rumah konon bisa tersendat dan penghuninya akan sering merasa tidak betah atau diganggu oleh hal-hal tak kasat mata.

LARANGAN MENGGELAR HAJATAN BESAR (MENIKAH ATAU KHITANAN)

Jika kita perhatikan, hampir tidak ada masyarakat Solo maupun Jogja yang berani menggelar acara pernikahan, khitanan, atau pesta besar lainnya di sepanjang bulan Suro, terutama pada malam satu Suro.

Alasan ditakuti, karena Bulan Suro dianggap sebagai bulannya Hajad Dalem atau bulannya para penguasa laut selatan dan leluhur keraton. Menggelar pesta pribadi di bulan ini dianggap tabu, karena dianggap menentang atau menyaingi kesakralan ritual alam semesta. Mitosnya, rumah tangga yang nekat dibangun pada bulan Suro dipercaya akan sering ditimpa nasib buruk dan pertengkaran.


Help US With Share