Misteri Yang Tidak Terpecahkan

Keajaiban dunia yang tercatat dalam sejarah tidak selalu jelas asal-usulnya. Bahkan, ada keajaiban dunia yang penuh misteri dan tidak terpecahkan. Kisah-kisah tentang situs pemakaman yang hilang hingga kota-kota yang tenggelam masih menarik imajinasi publik selama berabad-abad.
Walau beberapa misteri dari kejaiban dunia kemungkinan tidak akan pernah terpecahkan, masih banyak yang berminat mengeksplorasi dengan bantuan teknologi baru. Seperti yang ditunjukkan Berlin, seorang arkeolog masa kini yang menemukan palet tanah liat bertenaga reaktor atom untuk menyimpulkan komposisi kimia artifak. Berikut beberapa artifak keajaiban dunia yang masih diselimuti misteri yang tidak terpecahkan.
DATARAN GUCI (PLAIN OF JARS)
Ribuan guci batu yang tertutup lumut dari Zaman Megalithikum berjejer menghiasi pegunungan Laos utara. Tempat ini popular sebagai Dataran Guci, karena ada lebih dari 2.000 guci kuno raksasa yang tersebar. Para arkeolog memperkirakan fungsi guci sebagai penyimpanan mayat, namun tidak ada yang tahu siapa pembuatnya, atau fungsi sebenarnya. Legenda lainnya menceritakan guci-guci tadi sebagai tempat penyimpanan anggur. Jejeran guci rata-rata tingginya mencapai 10 kaki, dengan berat mencapai hingga 14 ton. Sebagian besar guci raksasa ini terbuat dari batu pasir, sementara yang lainnya dari granit atau karang. Penelitian terbaru memperkirakan beberapa guci batu dibuat pada era 1240 SM.
MAKAM CLEOPATRA
Nama penguasa kuno fenomenal, Cleopatra VII atau ratu terakhir Mesir terkenal fenomenal. Ia banyak bergaul dengan para penguasa masa itu, seperti Julius Caesar dan Mark Antony. Sebelum ditemukan bunuh diri pada 30 SM, Cleopatra mendengar kekalahan Antony di Pertempuran Actium. Namun, lokasi pemakaman Antony tidak teridentifikasi. Konon pasangan itu dimakamkan bersama, namun belum ada bukti nyata. Beberapa peneliti percaya, bahwa makam Cleopatra berada di Alexandria, Mediterania. Hanya saja sempat hilang ketika tsunami menyapu pada 365 Masehi. Ahli lain menduga, makam Cleopatra berada di delta Sungai Nil, atau mungkin di sebuah kuil yang didedikasikan untuk Isis dan Osiris, sosok yang menggambarkan Cleopatra dan Antony. Selain makam Cleopatra, situs pemakaman legendaris lainnya yang hilang termasuk milik Alexander Agung dan Jenghis Khan.
MANUSKRIP VOYNICH
Pada tahun 1912, pedagang buku langka Wilfrid Voynich memperoleh manuskrip abad pertengahan yang ia klaim telah disimpan di sebuah kastil kuno di Eropa selatan. Manuskrip ini ditulis dalam bahasa yang sudah punah berupa kode, tidak ada yang bisa mengenali dan diisi dengan ilustrasi aneh tanaman dan gambar wanita. Selama bertahun-tahun, beberapa orang telah mengaku menguraikannya, tetapi semuanya berujung dengan keraguan yang sangat besar. Beberapa menduga semuanya adalah tipuan. Manuskrip ini sekarang disimpan di Universitas Yale, yang dapat diakses untuk umum dan tertarik untuk mencoba memecahkan teka-tekinya.
PARACAS CANDELABRA
Di sebelah barat laut Garis Nazca, tepatnya di lereng bukit yang menghadap ke Teluk Pisco Peru terukir geoglyph besar lainnya yang membentang sekira 600 kaki dari atas ke bawah. Meskipun temuan di situs tersebut berasal dari sekitar 200 SM, tidak ada yang tahu persis kapan itu dibuat. Begitu pula alasan di balik pembuatannya belum terungkap. Satu teori menyatakan, bahwa tulisan kuno itu berfungsi sebagai alat navigasi untuk pelaut, sedangkan yang lain mengklaim itu menggambarkan trisula dewa pencipta.
SACSAYHUAMÁN
Di tempat lain di Cuzco, Peru berdiri sisa-sisa benteng Sacsayhuamán yang dibangun oleh suku Inca pada tahun 1400an. Sama seperti di Machu Picchu, para pekerja Inca entah bagaimana memindahkan batu-batu besar ke tempatnya, beberapa di antaranya seberat 125 ton atau lebih. Pada masa itu hanya dikenal alat-alat perunggu dan batu, dan penempelan bebatuan dilakukan tanpa semen. Walau penjajah Spanyol membongkar sebagian besar situs untuk bahan bangunan, Sacsayhuamán secara struktural tetap cukup kuat untuk menahan gempa bumi besar dan kerusakan akibat alam lainnya.
TELUK GUANABARA
Penjelajah kapal karam kontroversial Robert Marx mengklaim, pada tahun 1982 menemukan sejumlah vas Romawi bergagang kembar atau amphora di Teluk Guanabara, Brasil. Menurut Marx, amphora yang tertutup membuktikan bahwa orang Romawi adalah orang Eropa pertama yang mendarat di Brasil. Namun, dia tidak pernah dapat menjelajahi situs tersebut secara utuh karena larangan pemerintah Brasil untuk menghentikan eksplorasi bawah laut. Marx menanggapi dengan menuduh Angkatan Laut Brasil membuang sedimen di amphora agar tidak perlu menulis ulang sejarah. Sampai hari ini, kehadiran Romawi di pantai Brasil tetap sangat tidak terbukti. Namun, nama Teluk Guanabara sudah tersebar sebagai titik pendaratan pertama Romawi di Brasil.
