Boneka Hantu Dari Jepang

Boneka hantu selalu menjadi kisah unik yang dapat membuat bulu kuduk Moms berdiri. Bukan tanpa alasan boneka-boneka tersebut dijuluki dengan nama boneka berhantu. Julukan boneka hantu disematkan, karena di dalam boneka tersebut dipercaya terdapat kisah mistis yang berkaitan dengan makhluk astral atau gaib.
Selain itu, masyarakat umum percaya kalau di dalam boneka tersebut ada penghuninya alias ada arwah di dalamnya. Ternyata, di Jepang juga ada beberapa boneka hantu yang cukup terkenal di negeri sakura tersebut. Berikut boneka hantu asal Jepang.
OKIKU
Jepang dikenal sebagai negara yang kaya akan legenda urban dan cerita mistis yang menakutkan. Salah satu cerita mistis yang sangat terkenal di Jepang adalah kisah boneka Okiku.
Okiku merupakan boneka asal Jepang dengan rupa gadis kecil tanpa ekspresi, memakai kimono dan memiliki rambut panjang. Okiku tampak seperti boneka biasa pada umumnya, hanya saja ada kisah misterius dibalik boneka yang berasal dari Jepang tersebut.
Boneka Okiku sangat terkenal di Jepang dengan kisah misteriusnya, yang konon rambutnya bisa tumbuh dengan sendirinya. Boneka Okiku mempunyai julukan sebagai boneka hantu dari Hokkaido, karena kisah misteriusnya tersebut. Banyak orang yang beranggapan boneka Okiku memiliki aura mistis dan bisa hidup dengan sendirinya.
Mengenai misteri tentang rambut Okiku yang selalu tumbuh, sampai saat ini belum diketahui apa penyebabnya. Bahkan, beberapa peneliti dari Jepang pun mengatakan jika rambut pada boneka Okiku sama persis dengan rambut anak yang berusia 10 tahun.
Cerita boneka Okiku dimulai pada tahun 1918, ketika seorang anak kecil berusia 3 tahun bernama Kikuko yang diberikan hadiah sebuah boneka oleh kakaknya yang berusia 17 tahun.
Kikuko sangat mencintai bonekanya, ia juga selalu membawa boneka itu kemanapun ia pergi. Pada 1919, Kikuko terjangkit demam kuning. Gadis kecil itu kesulitan bernapas dan meninggal sembari memeluk boneka favoritnya.
Awalnya, rambut boneka ini hanya sebatas rahangnya. Tapi seiring dengan berjalannya waktu rambut boneka itu terus tumbuh seperti rambut seorang anak manusia. Saat terjadi perang dunia ke II Tahun, 1939 keluarga Suzuki pindah ke pulau shakalin, dan mereka membawa boneka itu ke Kuil Mannenji, di kota Iwamizawa. Mereka menjelaskan kepada Biksu tentang kejadian supranatural pada boneka Okiku, tetapi Biksu tidak benar-benar mempercayainya.
Para biarawan memastikan untuk memangkas rambut Okiku dari waktu ke waktu. Dilaporkan bahwa salah satu biksu mulai melakukannya setelah bermimpi Okiku memintanya untuk melakukannya. Tidak ada yang bisa menjelaskan mengapa rambut boneka itu terus tumbuh.
Banyak orang datang untuk melihat fenomena tersebut namun tak ada yang bisa menjelaskan mengapa rambut boneka itu terus tumbuh namun penelitian yang dilakukan menyebutkan bahwa rambut Okiku persis seperti rambut manusia. Yang lebih seram lagi, ternyata gigi Okiku juga tumbuh seperti gigi anak kecil.
Hingga kini boneka Okiku masih dipajang di kuil. Banyak pengunjung datang setiap tahunnya untuk melihat boneka itu dan mendoakan mendiang Kikuko yang sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu.
WARA NINGYO
Di Jepang, ada sejenis boneka yang disebut wara ningyo yang berarti boneka jerami. Namun, wara ningyo bukanlah seni dan kerajinan biasa. Justru sebaliknya, wara ningyo adalah boneka voodoo versi Jepang. Wara ningyo dibuat sebagai patung untuk seseorang yang ingin dicelakai, dan biasanya digunakan sebagai media ritual.
Orang yang melakukan ritual ini diwajibkan memakai baju putih mirip yukata dan memakai sarung tangan putih, serta mengecat wajahnya menjadi putih. Di bagian kepala menggunakan ikat kepala khusus dan dipasangi 2-3 lilin yang menyala, dia juga harus memakai sandal bakiak khusus. Di bagian dada dipasang semacam cermin bundar dan sebuah pedang dipasang di pinggul untuk berjaga-jaga, dan orang yang melakukan ritual ini juga diharuskan menggigit sisir kayu (kushi)
Ritual ini biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi, karena di Jepang ritual ini dianggap ilegal dan orang bisa dipenjara jika tertangkap basah melakukannya. Selama ritual berlangsung tidak diperbolehkan berbicara, jika bertemu orang lain selama ritual maka orang tersebut mungkin akan mendapat kutukan dan yang terburuk meninggal. Menurut legenda, ada resiko bahwa orang yang melakukan ritual akan berubah menjadi Oni (setan).
