Makhluk Cryptid Yang Diduga Ada Di Indonesia

Help US With Share

Indonesia merupakan negara yang penuh dengan bentang alam yang beragam. Tempat-tempat seperti pegunungan, hutan lebat, hingga pulau terpencil semuanya dapat ditemukan di Indonesia. Banyaknya lokasi di Indonesia yang belum tersentuh oleh Pembangunan, lantas memunculkan banyak kisah kalau ada cryptid atau makhluk misterius yang bersembunyi di pelosok Indonesia. Berikut beberapa cryptid yang konon menghuni pedalaman Indonesia.

AHOOL

Gunung Salak yang terletak di Jawa Barat dikenal sebagai gunung banyak menyimpan hal-hal berbau misteri, salah satunya adalah Ahool. Ahool sendiri adalah sebutan untuk hewan cryptid yang diyakini bersembunyi di pedalaman Gunung Salak. Nama “Ahool” berasal dari suara lolongan makhluk ini yang konon terdengar seperti “ahooooool”.

Menurut pengakuan orang yang pernah menyaksikan Ahool, makhluk ini memiliki wujud menyerupai kelelawar raksasa namun wajahnya berbentuk bundar layaknya monyet. Ahool juga diceritakan memiliki telapak kaki yang menghadap ke belakang, dan memiliki kegemaran menyantap ikan di sungai.

Ernst Bartels adalah salah satu orang asing yang pernah berpapasan langsung dengan Ahool, tepatnya pada tahun 1927 saat ia sedang melakukan penelitian di Gunung Salak. Pada suatu malam saat ia tengah terlelap di gubuknya, Bartels merasa terkejut saat mendadak ia mendengar suara lolongan aneh dari luar gubuknya.

Suara tersebut kembali terdengar tidak lama kemudian. Bartels yang merasa penasaran lantas memutuskan untuk pergi keluar gubuknya sambil membawa obor. Saat Bartels akhirnya menemukan sumber suara tersebut, ia merasa tertegun karena makhluk yang membuat suara tersebut sama sekali tidak seperti hewan-hewan yang pernah ia jumpai sebelumnya.

Mereka yang skeptis meyakini, bahwa Ahool aslinya adalah hewan biasa semisal kelelawar atau burung hantu. Namun ada pula yang menduga kalau Ahool mungkin masih berkerabat dengan Kongamoto, cryptid asli Afrika yang diceritakan memiliki wujud menyerupai dinosaurus terbang.

GAJAH MINA

Jika mendengar kata gajah, maka seketika orang akan langsung membayangkan hewan raksasa yang memiliki belalai dan hidup di darat. Ternyata gajah tidak hanya dapat ditemukan di darat, Gajah Mina adalah contoh dari gajah yang hidup di laut.

Gajah Mina sendiri aslinya bukanlah gajah, melainkan makhluk misterius yang sering ditemukan terdampar di pantai. Hewan ini diberi nama gajah karena ia nampak memiliki belalai, gading, serta daun telinga yang lebar. Namun tidak seperti gajah yang hidup di darat, Gajah Mina memiliki ekor layaknya ikan.

Gajah Mina diketahui dapat memiliki ukuran yang sangat besar, dengan panjangn yang dapat mencapai 20 meter. Gajah Mina juga tidak sama dengan ikan atau paus, karena makhluk ini memiliki kulit yang terlihat berbulu.

Gajah Mina diyakini hanya hidup di laut dalam. Jika Gajah Mina sampai terdampar di darat, penduduk pesisir percaya kalau sesuatu yang buruk bakal segera terjadi dalam waktu dekat. Gajah Mina belum pernah ditemukan dalam kondisi masih hidup, namun ia beberapa kali ditemukan terdampar di pantai dalam kondisi sudah mati.

Pada tanggal 13 Januari 2005, Gajah Mina diketahui pernah terdampar di pantai Dungan, Riau. Bangkai Gajah Mina tersebut kemudian dipreteli dan dibawa pulang oleh penduduk setempat.

Pada tanggal 20 Juni 2010, seorang nelayan bernama Amir juga mengaku pernah tidak sengaja menangkap Gajah Mina memakai jala di pantai. Karena merasa takut, ia sempat menjauhi pantai tempat ia menemukan Gajah Mina selama 3 bulan.

Sejumlah pihak meyakini kalau Gajah Mina aslinya adalah bangkai ikan paus biasa. Apa yang terlihat seperti gading aslinya hanyalah potongan tulang dari ikan paus, sementara kulitnya yang nampak berbulu aslinya merupakan kulit yang mengalami pembusukan hingga nampak terurai.

Walau Gajah Mina hanya ditemukan di Indonesia, makhluk serupa juga pernah ditemukan di luar Indonesia. Makhluk tersebut bernama Trunko dan pernah menampakkan diri di Afrika Selatan pada tahun 1924. Seperti halnya Gajah Mina, Trunko juga memiliki gading dan kulit yang berbulu.

ORANG PENDEK

Di Pulau Sumatera, sejumlah warga setempat meyakini ada makhluk misterius yang bersembunyi di pedalaman yang disebut Orang Pendek. Nama itu sendiri diberikan karena Orang Pendek memang digambarkan memiliki penampilan menyerupai manusia, namun dengan tubuh yang pendek alias kerdil.

Orang Pendek bukanlah satu-satunya nama yang digunakan untuk menyebut makhluk ini. Penduduk asli Sumatera memiliki beraneka macam julukan untuk menyebut makhluk ini, mulai dari Uhak Pandak, Orang Bunian, Leco, Anak Ghoteh, Bigau, dan lain sebagainya.

Orang Pendek diceritakan bukan hanya terdiri dari 1 atau 2 makhluk, melainkan terdiri dari beberapa makhluk hidup sekaligus. Mereka diyakini hidup berkelompok, bahkan memiliki perkampungan sendiri layaknya manusia. Orang Pendek konon dapat berkomunikasi dengan memakai manusia dan berlari dengan amat cepat, itulah sebabnya Orang Pendek amat sulit ditangkap oleh manusia.

Banyaknya kabar mengenai keberadaan Orang Pendek turut menarik perhatian masyarakat Eropa. Pada tahun 1930-an, saat wilayah Indonesia masih dikuasai oleh Belanda, orang-orang Eropa pada masa itu giat melakukan penyisiran di hutan Sumatera untuk menemukan Orang Pendek. Aktivitas perburuan untuk menemukan Orang Pendek semakin gencar, setelah ada ilmuwan asal Belgia yang bersedia membayar uang dalam jumlah besar jika ada yang bisa membawakan Orang Pendek ke hadapannya.

Saat aktivitas perburuan yang dilakukan oleh orang-orang Eropa untuk menemukan Orang Pendek semakin ramai, pemerintah kolonial Belanda memutuskan untuk melarang perburuan Orang Pendek dengan dalih menjaga kelestarian mereka. Hingga sekarang, keberadaan Orang Pendek masih menjadi misteri yang menunggu untuk disibak.

VEO

Trenggiling mudah dikenali berkat tubuhnya yang bersisik dan kebiasaannya menggulung diri hingga menyerupai bola. Trenggiling yang sudah diketahui manusia umumnya berukuran lebih kecil dari manusia, namun tidak demikian halnya dengan Veo.

Veo adalah sebutan untuk cryptid yang bentuknya menyerupai trenggiling. Yang membuat Veo berbeda dari trenggiling biasa, adalah makhluk ini konon panjangnya mencapai 3 meter. Hewan ini dyakini menghuni Pulau Rinca, pulau kecil yang terletak di Nusa Tenggara Timur dan berlokasi tidak jauh dari Pulau Komodo.

Veo diceritakan bersembunyi di dataran tinggi pada siang hari, namun turun ke daratan yang lebih rendah pada malam hari untuk memakan serangga dan kerang. Cryptid ini konon dapat berdiri tegak dengan memakai 2 kaki belakangnya. Setiap kali Veo menampakkan diri, hewan tersebut akan membuat suara yang terdengar seperti “hu-hu-hu”.

Informasi mengenai Veo pertama kali diketahui oleh orang luar Indonesia, saat seorang penjelajah Perancis yang bernama Pierre Pfeiffer bertemu dengan seorang pemburu asal Pulau Rinca. Pemburu tersebut bercerita kalau pada suatu malam, ia dan rekannya sedang berburu di Pulau Rinca pada malam hari. Saat itulah, mereka berdua berpapasan dengan Veo. Karena terlalu takut untuk melarikan diri, mereka berusaha menyembunyikan keberadaan mereka dengan cara tengkurap tanpa bergerak hingga Veo tadi pergi.

Pemburu tersebut menambahkan bahwa Veo tidak dapat dilukai dengan senjata api, karena sisiknya tidak tembus peluru. Veo juga diyakini sebagai makhluk yang berbeda dari komodo, karena menurut pengakuan warga setempat Veo memiliki wujud yang berbeda dari komodo.


Help US With Share