Mitos Telaga Ngebel

Help US With Share

Telaga Ngebel merupakan danau alami di kaki Gunung Wilis, tepatnya Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Destinasi wisata tersebut menawarkan telaga seluas 150 hektar dan udara yang sejuk. Telaga Ngebel juga telah dilengkapi dengan Ngebel Sunset View Point dan rumah pohon.

Di balik keindahannya, Telaga Ngebel memiliki mitos menarik yang melekat di tengah masyarakat setempat. Kepercayaan ini berkembang dari cerita rakyat yang menyebutkan bahwa telaga tersebut memiliki kaitan dengan makhluk mitologis, serta seringnya terjadi kecelakaan misterius di kawasan ini, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa.

Oleh karena itu, masyarakat meyakini perlunya diadakan tradisi larungan sebagai bentuk penghormatan dan persembahan kepada penunggu telaga agar tidak mendatangkan marabahaya.

Tradisi ini merupakan bentuk ritual untuk memberikan sesaji kepada makhluk halus penunggu telaga agar tidak murka. Larungan diyakini dapat mencegah terjadinya kecelakaan atau musibah.

Warga percaya bahwa apabila larungan tidak dilaksanakan, maka penunggu telaga akan meminta tumbal dalam bentuk korban jiwa.

Larungan dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu larung malam dan larung pagi. Larung malam digelar pada malam satu Suro dengan inti acara melarung buceng alit (nasi tumpeng kecil dari beras merah).

Sebelum larung malam, dilakukan penyembelihan wedus kendhit (kambing belang) pada siang harinya, diikuti tirakatan oleh para tetua dan prosesi Seribu Dian, yakni seribu pemuda membawa obor mengelilingi telaga.

Keesokan harinya, acara dilanjutkan dengan larung pagi yang lebih meriah. Dalam larung pagi, dua buceng dilarung ke telaga, yaitu buceng lanang (jantan) yang dilarung ke air, dan buceng wadon (betina) yang dibagikan kepada warga.

Acara ini diawali dengan pembukaan, kirab budaya, serah terima sesaji, dan ditutup dengan pelarungan buceng lanang sebagai simbol puncak perayaan. Suasana semakin semarak dengan penampilan seni tradisional seperti tari Gambyong, Bedaya Larung, dan Jathilan.

Tradisi ini bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya dan identitas lokal.

Bagi masyarakat Ngebel, mitos dan larungan adalah bagian dari keyakinan yang diwariskan secara turun-temurun, dan hingga kini tetap dijaga demi harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan gaib yang dipercaya menaungi Telaga Ngebel.

Sosok Baru Klinting juga melekat dengan mitos dan legenda masyarakat Jawa, termasuk Rawa Pening serta Telaga Ngebel. Baru Klinting merupakan sosok naga yang tubuhnya melingkari Gunung Wilis. Ada yang mempercayai bahwa ia jelmaan Patih Bataringin, tapi ada pula yang percaya bahwa jelmaan dari Putra Ki Ageng Mangir dan Nyai Roro Kijang.

Baruklinting berubah menjadi manusia setelah bersemedi melingkari Gunung Wilis sekitar 300 tahun. Sebelum sempat berubah wujud, ia tidak sengaja ditemukan warga yang tengah berburu. Dagingnya diambil untuk pesta bersih desa.

Sata ia berubah menjadi manusia, tubuhnya penuh luka. Ia pun meminta makanan pada warga. Tapi tidak ada yang memberi, kecuali Nyi Lantung. Setelah itu, Baruklinting berpesan pada Nyi Lantung untuk mempersiapkan lesung dan centong kayu sebagai dayung.

Baru Klinting menancapkan lidi dan bersumpah tidak ada yang dapat mencabutnya, kecuali dirinya sendiri. Benar saja, tidak ada warga yang mampu mencabut lidi tersebut. Kemudian, Baruklinting mencabut lidi tersebut dan muncullah air dari dalam tahan.

Air semakin besar, Baruklinting dan Nyai Lantung dapat selamat dengan naik lesung. Sedangkan warga yang menzaliminya tenggelam. Daratan yang tenggelam dan dipenuhi air tersebut kini bernama Telaga Ngebel.

Kisah lain yang dipercaya masyarakat setempat, yakni Telaga Ngebel terbentuk karena sebuah batu suci. Ngebel merupakan nama seorang pemuda yang telah menemukan batu suci tersebut. Setelah penemuan batu suci, air mulai mengalir ke tempat itu. Semakin banyak air yang mengalir dan terbentuklah Telaga Ngebel.

Telaga Ngebel juga tidak lepas dari hal misterius yang belum terungkap faktanya. Konon, sering terdengar suara gemuruh disertai gerakan tanah sejak tahun 2011 dan kadang masih terdengar hingga saat ini. Suara tersebut membuat warga resah, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sebagian masyarakat menduga bahwa kejadian itu berkaitan dengan ular naga penunggu Ngebel. Namun, ada pula yang percaya menurut Bandan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bahwa suara tersebut berasal dari pergerakan geologi di daerah tersebut.

Selain dikaitkan dengan sosok naga raksasa, Telaga Ngebel juga dipercaya sebagai tempat belut raksasa. Konon sebelum pembangunan PLTA, ada nelayan yang melihat sosok menyerupai belut. Begitu besarnya, belut tersebut menghasilkan gelombang yang hampir menenggelamkan perahunya.

Namun, belut besar itu tidak lagi menampakkan diri. Hal tersebut dikaitkan dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang menggunakan dinamit sehingga diduga belut raksasa itu mati akibat getaran dan radiasinya.

Mitos Telaga Ngebel juga berkaitan dengan sopan santun, yaitu meludah sembarang. Jika meludah sembarangan di Telaga Ngebel, dipercaya dapat memicu kemarahan penunggunya. Bahkan, pengunjung akan bernasib sial dalam waktu dekat. Parahnya, dipercaya tidak akan pulang dengan selamat.

 


Help US With Share